BRIEF.ID – Harga minyak mentah Brent melonjak dan mencatat kenaikan harian tertinggi sejak akhir Juli setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat dalam aksi serangan militer. Eskalasi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.
Brent naik 5% atau US$ 4,35 per barel menjadi US$91,17 per barel, dibandingkan harga sebelumnya sekitar US$86,82 per barel. Harga minyak WTI naik 3,5% menjadi US$86,31 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi ketika investor kembali memperhitungkan risiko geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara AS berpotensi mengganggu jalur distribusi energi, terutama jika ketegangan meluas ke kawasan strategis bagi perdagangan minyak dunia.
Brent menjadi salah satu indikator utama yang diperhatikan pasar karena perubahan harganya dapat memengaruhi biaya energi, transportasi, hingga inflasi global.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan konflik AS-Iran dan kemungkinan dampaknya terhadap produksi serta pengiriman minyak. Gangguan terhadap pasokan, khususnya melalui jalur perdagangan utama di kawasan Timur Tengah, berpotensi mendorong harga minyak semakin tinggi.
Lonjakan harga Brent juga meningkatkan perhatian terhadap prospek inflasi. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi, sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap daya beli konsumen.
Pasar selanjutnya akan menunggu perkembangan konflik serta respons negara-negara produsen minyak. Jika eskalasi berlanjut, risiko kenaikan harga minyak diperkirakan tetap tinggi.
Sebaliknya, apabila ketegangan mulai mereda dan tidak terjadi gangguan signifikan terhadap pasokan, tekanan terhadap harga minyak berpotensi berkurang.
Kenaikan Brent menunjukkan bahwa risiko geopolitik kembali menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar energi global. (Investing.com/nov)


