BRIEF.ID – Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) terus memburuk dengan jumlah korban jiwa kini telah melampaui 1.000 orang, menjadikannya salah satu epidemi Ebola paling mematikan dalam sejarah negara itu. Otoritas kesehatan menyebut penyebaran virus masih berlangsung cepat, sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa banyak rantai penularan belum berhasil diidentifikasi.
Berbicara di sebuah konferensi kesehatan di Ghana, Dr. Jean Kaseya, direktur jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika, mengatakan 1.031 kematian telah dikonfirmasi.
“Ini adalah orang-orang yang meninggal. Mereka meninggal karena kita tidak memiliki vaksin, kita tidak memiliki obat-obatan, kita tidak memiliki dana,” kata Kaseya dikutip dari Euronews.com, Kamis (23/7/2026).
Kementerian Kesehatan Kongo melaporkan 2.473 kasus terkonfirmasi Ebola hingga 21 Juli 2026. Dari jumlah itu, lebih dari 1.000 pasien meninggal dunia, sementara ratusan lainnya masih menjalani perawatan atau isolasi. Wabah ini didominasi penyebaran di provinsi Ituri dan Kivu Utara, wilayah yang selama bertahun-tahun dilanda konflik bersenjata sehingga menyulitkan upaya penanganan.
Virus yang menyebabkan wabah kali ini adalah strain Bundibugyo, salah satu varian Ebola yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi yang telah disetujui secara luas. Kondisi ini membuat tenaga kesehatan menghadapi tantangan lebih besar dibandingkan wabah Ebola sebelumnya yang disebabkan oleh strain Zaire.
WHO menyatakan sekitar 80% kasus baru berasal dari rantai penularan yang belum diketahui, menandakan penyebaran virus masih belum terkendali. Selain itu, rendahnya pelacakan kontak, keterbatasan akses ke daerah konflik, penolakan sebagian masyarakat terhadap prosedur kesehatan, hingga serangan terhadap fasilitas medis memperburuk situasi.
Para pakar memperingatkan bahwa jumlah kasus sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi daripada data resmi karena banyak penderita meninggal di komunitas sebelum sempat mendapatkan diagnosis atau perawatan. Tanpa peningkatan respons kesehatan masyarakat dan dukungan internasional, wabah ini dikhawatirkan dapat berkembang menjadi salah satu epidemi Ebola terbesar dalam beberapa dekade terakhir. (nov)


