Dentuman Anak Krakatau Terdengar hingga Jawa Barat, Badan Geologi Ungkap Penyebabnya

BRIEF.ID – Gunung Anak Krakatau tidak hanya mengirimkan abu vulkanik dari kawasan Selat Sunda. Erupsi menerus yang terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari juga diduga menjadi sumber dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Banten, Lampung hingga Jawa Barat.

Fenomena tersebut terjadi ketika Anak Krakatau kembali mengalami erupsi menerus. Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat erupsi berlangsung sejak 4 September 2026 sekitar pukul 23.07 WIB dan disertai suara gemuruh dari kawasan gunung api.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat memiliki kesesuaian waktu dengan aktivitas erupsi Anak Krakatau.

“Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan,” tutur Lana di Jakarta, Minggu (6/9).

Dia mengakui fenomena tersebut menjadi perhatian karena suara dentuman yang dilaporkan terdengar cukup jauh dari pusat erupsi. Gelombang akustik dari aktivitas gunung api memang dapat merambat melalui atmosfer dalam kondisi tertentu.

Lana menjelaskan gelombang akustik berfrekuensi rendah dapat merambat jauh dan kemudian dirasakan masyarakat sebagai suara dentuman. Kondisi atmosfer, termasuk angin dan lapisan udara, dapat memengaruhi jalur rambatan gelombang tersebut.

“Gelombang akustik berfrekuensi rendah ini dapat merambat jauh dalam kondisi atmosfer tertentu dan dirasakan sebagai dentuman,” kata Lana.

Menurutnya, melalui mekanisme tersebut, jarak geografis tidak selalu menjadi penentu utama apakah suara erupsi dapat terdengar atau tidak. Gelombang suara dapat mengalami pembiasan di atmosfer sebelum kembali mencapai permukaan.

Badan Geologi bahkan membandingkan fenomena tersebut dengan erupsi sejumlah gunung api lain yang suaranya dapat terdengar hingga wilayah yang berjarak jauh dari pusat erupsi.

Pada saat yang sama, aktivitas Anak Krakatau memang sedang meningkat. Gunung api tersebut berada pada Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026, setelah sebelumnya berada pada Level II atau Waspada.

Erupsi terbaru juga memperlihatkan semburan berwarna merah menyala yang berlangsung terus-menerus. Badan Geologi menginterpretasikan fenomena tersebut menyerupai lava fountain atau lava air mancur yang dapat menghasilkan aliran lava.

Namun, dentuman yang terdengar hingga wilayah jauh tidak otomatis berarti Anak Krakatau sedang menuju letusan yang lebih besar. Lana menegaskan frekuensi erupsi tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk memperkirakan skala letusan berikutnya.

“Aktivitas Gunung Krakatau saat ini memang meningkat dibandingkan periode sebelumnya, ditandai oleh erupsi yang berulang dan berlangsung secara terus menerus,” ujar Lana.

Pemerintah tetap meminta masyarakat tidak mendekati kawasan gunung api. Radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau dinyatakan sebagai wilayah yang tidak boleh dimasuki masyarakat, wisatawan maupun pendaki.

Di luar ancaman langsung di sekitar kawah, perhatian kini juga tertuju pada sebaran abu vulkanik. BMKG mendeteksi abu bergerak ke sejumlah wilayah dengan arah yang berbeda pada ketinggian atmosfer tertentu, sehingga kondisi dapat berubah mengikuti dinamika angin. (ayb)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

CCTV Anak Krakatau Rusak di Tengah Erupsi, Begini Cara Pemerintah Memantau Aktivitas Gunung

BRIEF.ID - Aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat ketika salah...

Anak Krakatau Sudah Berstatus Siaga Sejak Juli, Kini Kembali Erupsi dan Sebarkan Abu

BRIEF.ID - Gunung Anak Krakatau (GAK) ternyata tidak tiba-tiba...

Anak Krakatau Kembali Erupsi, Bukan Tsunami yang Paling Diwaspadai

BRIED.ID - Nama Anak Krakatau kembali memunculkan bayang-bayang tsunami...

Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke Jakarta, Pramono Imbau Warga Waspada

BRIEF.ID - Jakarta mulai masuk dalam radar dampak erupsi...