BRIEF.ID – Jakarta mulai masuk dalam radar dampak erupsi Gunung Anak Krakatau setelah abu vulkanik dari gunung yang berada di Selat Sunda itu dilaporkan menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Ibu Kota Jakarta.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun kini telah meningkatkan koordinasi dengan pemerintah pusat dan sejumlah instansi terkait untuk memantau pergerakan abu.
Gubernur Provinsi Jakarta Pramono Anung mengatakan Pemprov DKI terus melakukan koordinasi menyusul perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau. Menurut Pramono, koordinasi dilakukan bersama pemerintah pusat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta instansi terkait lainnya.
“Saat ini abu gunung vulkanis atau abu vulkanik Anak Krakatau telah menyebar ke beberapa wilayah di Indonesia, termasuk di antaranya di Jakarta,” tutur Pramono dalam rekaman pernyataannya di Jakarta, Minggu (6/9).
Menurut Pramono, kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut menjadi perhatian pemerintah mengingat abu vulkanik dari aktivitas gunung tersebut telah menyebar ke sejumlah wilayah di Indonesia.
Pramono menuturkan pergerakan abu vulkanik sangat bergantung pada kondisi angin. Maka dari itu, Pemprov DKI Jakarta tidak hanya memantau kondisi di Jakarta, tetapi juga terus berkoordinasi dengan BMKG dan instansi terkait untuk mengetahui arah pergerakan abu.
“Karena ada arah sebaran abu sangat dipengaruhi oleh kondisi angin, Pemerintah Jakarta akan terus berkoordinasi dengan BMKG dan instansi terkait untuk memantau pergerakannya,” kata Pramono.
Di tengah potensi paparan abu vulkanik tersebut, Pramono meminta masyarakat tidak panik. Namun, ketenangan tersebut tetap perlu dibarengi kewaspadaan, terutama bagi warga yang wilayahnya mulai terdampak abu.
“Saya menghimbau untuk tetap tenang dan waspada,” ujar Pramono
Pramono kemudian mengingatkan warga untuk melakukan sejumlah langkah perlindungan apabila wilayah tempat tinggal mereka mulai terdampak abu vulkanik. Salah satunya dengan menggunakan masker atau perlindungan diri, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Selain itu, masyarakat diminta menutup pintu dan jendela serta menjaga sumber air agar tidak terkontaminasi abu vulkanik. Aktivitas di luar ruangan juga sebaiknya dibatasi apabila konsentrasi abu sudah cukup pekat.
Langkah berikutnya berkaitan dengan proses pembersihan abu. Pramono mengingatkan masyarakat agar abu terlebih dahulu dibasahi sebelum dibersihkan. Cara tersebut diperlukan agar partikel abu tidak kembali beterbangan dan berpotensi terhirup.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga meminta masyarakat mengandalkan informasi dari kanal resmi pemerintah. Pramono menyebut sejumlah lembaga yang dapat menjadi rujukan, yakni pemerintah pusat, BMKG, Badan Geologi Kementerian ESDM, dan BPBD.
“Kami meminta warga Jakarta untuk memantau informasi dari kanal resmi pemerintah pusat, BMKG, Badan Geologi Kementerian ESDM, BPBD, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dengan baik,” tuturnya.
Pramono juga mengingatkan warga agar segera mendapatkan pertolongan medis apabila mulai mengalami gangguan kesehatan.
Masyarakat diminta mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala penyakit pernapasan maupun kondisi penglihatan yang memburuk.
“Segera kunjungi faskes terdekat apabila mengalami gejala penyakit pernapasan dan penglihatan yang memburuk,” katanya
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap dampak abu vulkanik Anak Krakatau, Pemprov DKI menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat. Pramono meminta warga tetap mengikuti perkembangan informasi resmi sekaligus mengambil langkah perlindungan apabila abu vulkanik mulai memengaruhi lingkungan sekitar.
“Tetap waspada, lindungi diri dan keluarga. Mari bersama-sama jaga Jakarta dengan menjaga diri kita sendiri-sendiri dari abu vulkanik,” tutupnya. (ayb)


