BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berpotensi mengalami koreksi terbatas pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (23/7/2026), setelah mencatat reli dalam beberapa pekan terakhir. Pergerakan indeks dipengaruhi oleh hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia serta aksi ambil untung (profit taking) yang dilakukan investor.
Riset Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak pada kisaran 6.280–6.400, dengan level resistance di 6.400, pivot di 6.300, dan support di 6.250.
“Kami memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang 6.280–6.400 pada perdagangan Kamis (23/7/2026),” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Sebelumnya, IHSG ditutup melemah 0,10% ke level 6.334,48 pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Pelemahan, terutama dipicu aksi profit taking setelah penguatan indeks yang cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, secara teknikal tren IHSG masih relatif positif. Indeks tetap bergerak di atas rata-rata pergerakan MA5 dan MA20, sementara histogram MACD masih berada di area positif, mengindikasikan momentum penguatan belum sepenuhnya berakhir.
Dari sisi fundamental, perhatian pelaku pasar tertuju pada hasil RDG Bank Indonesia. Bank sentral memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75%, di bawah ekspektasi sebagian pelaku pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 6,00%. Sementara itu, suku bunga Deposit Facility tetap di level 4,75% dan Lending Facility bertahan di 6,50%.
Selain mempertahankan suku bunga acuan, Bank Indonesia juga memperluas berbagai kebijakan insentif serta instrumen moneter untuk mendorong arus masuk investasi portofolio asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kebijakan tersebut mencerminkan keyakinan bank sentral terhadap stabilitas inflasi dan nilai tukar, sekaligus tetap memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Di sektor perbankan, pertumbuhan kredit menunjukkan tren yang semakin kuat. Pada Juni 2026, kredit tumbuh 12,67% secara tahunan (year on year/YoY), meningkat dari 11,51% pada Mei 2026 dan menjadi laju pertumbuhan tertinggi sejak April 2024.
Peningkatan tersebut didorong oleh pertumbuhan kredit investasi sebesar 24,9%, kredit modal kerja sebesar 8,94%, serta kredit konsumsi sebesar 5,75%.
Ketahanan sektor perbankan juga dinilai tetap solid di tengah ketidakpastian global. Hal ini didukung oleh permodalan yang kuat, rasio kredit bermasalah yang tetap rendah, serta kondisi likuiditas yang memadai.
Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 berada pada kisaran 8%–12%, dengan dukungan fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) sebesar Rp2.490 triliun, atau sekitar 21,52% dari total plafon kredit. Kondisi ini menunjukkan permintaan pembiayaan masih memiliki ruang untuk tumbuh meskipun BI Rate telah meningkat 100 basis poin sejak Juni 2026.
Untuk perdagangan hari ini, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang berpotensi dicermati investor, yakni CPIN, MYOR, TINS, INCO, dan ERAA. (nov)


