BRIEF.ID – Harga emas dunia ditutup menguat pada perdagangan, Rabu (22/7/2026) setelah meningkatnya minat investor pada aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global dan ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Harga emas di pasar spot naik 1,3% menjadi US$ 4.130,09 per troy ons, sedangkan emas berjangka AS menguat 1,4% ke level US$ 4.134,95 per troy ons.
Kenaikan ini terjadi setelah emas sempat mengalami tekanan jual pada pekan lalu. Pelaku pasar memanfaatkan pelemahan harga sebelumnya untuk kembali melakukan aksi beli, sehingga mendorong logam mulia tersebut kembali ke atas level psikologis US$ 4.100 per troy ons.
Senior Market Analyst Trade Nation, David Morrison mengatakan, rebound saat ini dimulai pada pekan lalu setelah harga emas turun di bawah US$ 3.960 dan diperdagangkan pada level terendah sejak November.
“Pertanyaan besarnya adalah apakah harga emas sudah mencapai titik terendah, ataukah ini hanya reli korektif dalam pergerakan turun yang lebih besar? Meskipun pemulihan harga emas sangat mengesankan, harga perlu menembus angka US$ 4.200 secara meyakinkan untuk membangkitkan kembali semangat para investor,” tambah Morrison. kata Morrison dikutip dari Investing.com, Kamis (23/7/2026).
Disebutkan, penguatan emas didukung oleh meningkatnya permintaan terhadap aset yang dinilai lebih aman di tengah masih tingginya ketidakpastian ekonomi global. Selain itu, pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat turut meningkatkan daya tarik emas karena menurunkan biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Pasar juga mencermati berbagai data ekonomi Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk mengenai langkah Federal Reserve dalam menentukan arah suku bunga. Prospek penurunan suku bunga umumnya memberikan sentimen positif bagi emas, karena menekan imbal hasil obligasi dan nilai tukar dolar.
Saat ini, harga emas kembali menunjukkan perannya sebagai instrumen lindung nilai di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global. Para pelaku pasar kini menunggu perkembangan data inflasi, kondisi pasar tenaga kerja AS, serta pernyataan pejabat Federal Reserve (The Fed) untuk menentukan arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek. (nov)


