BRIEF.ID – Konser maestro tenor dunia Andrea Bocelli bertajuk “Romanza 30th Anniversary World Tour” di Indonesia sudah mulai menunjukkan geliat ekonomi bahkan sebelum hari pertunjukan digelar.
Konser bertajuk Andrea Bocelli Romanza 30th Anniversary World Tour Indonesia itu akan berlangsung di Lumbini Park, Borobudur, pada 31 Oktober 2026. Setelah dari Borobudur, Bocelli dijadwalkan tampil di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, pada 3 November 2026.
Antusiasme penonton terlihat sejak periode presale tiket tersebut dibuka pada Jumat (21/8/2026). Penjualan presale tersebut diperuntukkan bagi pemegang kartu debit dan kredit Jenius serta BNI melalui platform tiket.com dan berlangsung hingga Senin (24/8/2026) pukul 13.00 WIB.
Harga tiket konser ini cukup beragam, mulai dari sekitar Rp1 juta hingga lebih dari Rp15 juta untuk kategori premium. Tiket dengan harga tertinggi juga menawarkan akses ke VIP lounge sebelum pertunjukan.
Namun, berdasarkan informasi resmi yang tersedia hingga Minggu (23/8/2026), belum terdapat keterangan resmi dari pihak penyelenggara yang menyatakan seluruh tiket kategori premium telah habis terjual. Penjualan umum sendiri baru dijadwalkan dibuka pada Senin (24/8/2026) pukul 13.00 WIB.
Meski demikian, konser Bocelli sudah mulai memperlihatkan efek berantai terhadap sektor pariwisata di sekitar Candi Borobudur, Jawa Tengah. Berdasar penelusuran Brief.id di sejumlah agen perjalanan online, kamar Hotel Amanjiwo dan Plataran Heritage Borobudur Hotel yang merupakan akomodasi bintang 5 di kawasan Candi Borobudur sudah habis dipesan atau terisi penuh oleh tamu pada tanggal 30-31 Oktober mendatang.
Sementara itu, penyelenggara menyediakan travel bundle yang menggabungkan tiket konser dengan transportasi dan akomodasi hotel melalui Tiket.com. Bank SMBC Indonesia bersama mitranya juga menawarkan hospitality package yang mencakup pilihan hotel dan tiket pesawat. Paket tersebut antara lain menyediakan potongan harga hingga Rp1 juta, serta layanan seperti pre-event dinner, airport transfer, dan venue shuttle bagi konsumen yang memenuhi persyaratan.
Pergerakan penonton menuju Borobudur berpotensi memberikan keuntungan langsung bagi industri perhotelan. Pihak Kementerian Pariwisata memperkirakan konser di Borobudur dapat menarik hingga 7.000 penonton, sementara pertunjukan di Jakarta diproyeksikan mencapai 9.000 penonton.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana sebelumnya menyebut konser berskala internasional seperti ini dapat menjadi demand generator yang menggerakkan berbagai sektor ekonomi, bukan hanya penjualan tiket.
Efek tersebut mencakup hotel, transportasi, kuliner hingga aktivitas UMKM di sekitar destinasi. Pemerintah bahkan menargetkan rangkaian konser Andrea Bocelli di Borobudur dan Jakarta memberikan dampak ekonomi sekitar 44 juta dolar AS atau setara Rp792 miliar.
Dengan demikian, perburuan tiket Andrea Bocelli tidak hanya menjadi cerita tentang siapa yang mendapatkan kursi terbaik untuk mendengarkan suara tenor asal Italia tersebut. Konser ini juga berpotensi menjadi mesin penggerak ekonomi bagi Magelang dan kawasan Borobudur.
Apalagi, Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang menjadi lokasi penampilan publik Andrea Bocelli dalam rangkaian perayaan 30 tahun album Romanza pada 2026.
Jika penjualan tiket terus bergerak positif hingga penjualan umum dibuka, tekanan terhadap ketersediaan kamar hotel, transportasi, restoran, dan layanan wisata di sekitar Borobudur berpotensi semakin besar menjelang 31 Oktober.
Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia yang masuk dalam rangkaian perayaan 30 tahun album Romanza milik Bocelli. Kementerian Pariwisata menilai kehadiran penyanyi tenor dunia tersebut menjadi momentum untuk mempertemukan pertunjukan musik kelas dunia dengan destinasi wisata, budaya, dan warisan Indonesia.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan konser berskala internasional memiliki nilai strategis bagi sektor pariwisata karena dapat menjadi demand generator yang menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi di daerah penyelenggara.
Dampaknya tidak hanya berasal dari penjualan tiket, tetapi juga akomodasi, transportasi, kuliner, hingga keterlibatan pelaku UMKM, pekerja seni, komunitas, dan vendor produksi.
Kemenpar memperkirakan konser Andrea Bocelli akan menarik sekitar 7.000 penonton di Borobudur dan 9.000 penonton di Jakarta. Dari dua pertunjukan tersebut, pemerintah menargetkan terciptanya aktivitas ekonomi sekitar US$44 juta atau setara Rp792 miliar.
Untuk memperbesar dampak pariwisata, Kemenpar juga menggandeng agen perjalanan dan operator tur untuk menyiapkan paket wisata di sekitar Borobudur.
Penonton diharapkan tidak hanya datang untuk menyaksikan konser, tetapi juga memperpanjang masa tinggal dan mengunjungi destinasi wisata lain di Magelang maupun Jawa Tengah.
Pemerintah juga mendukung program Free Add-on Tickets bersama Garuda Indonesia bagi wisatawan mancanegara yang terbang ke Jakarta atau Bali dan melanjutkan perjalanan domestik menuju Yogyakarta.
Selain itu, Kemenpar memfasilitasi pengurusan visa bagi seniman serta kemudahan perizinan masuk untuk kebutuhan logistik pertunjukan. Kehadiran Bocelli di Borobudur sekaligus menjadi bagian dari strategi pemerintah mengembangkan wisata berbasis musik dan event tourism.
Hingga Juli 2026, Kemenpar mencatat 105 event yang mendapat dukungan telah terselenggara, dengan jumlah pengunjung lebih dari 6,47 juta orang, melibatkan sekitar 11.000 UMKM serta 184.000 pekerja seni dan komunitas. Estimasi perputaran uang dari event-event tersebut mencapai Rp1 triliun.
Dengan proyeksi 16.000 penonton dari dua pertunjukan dan potensi perputaran ekonomi Rp792 miliar, konser Andrea Bocelli diposisikan pemerintah bukan sekadar pertunjukan musik, tetapi juga sebagai instrumen promosi destinasi dan penggerak ekonomi pariwisata Indonesia. (ayb/smu)


