BRIEF.ID – Sehari setelah salah satu serangan terburuk Rusia di Kyiv, Ukraina sejak invasi skala penuh tahun 2022, Rusia memperingatkan warga asing dan diplomat segera meninggalkan ibu kota Ukraina, karena bakal ada serangan lanjutan.
Rusia menyatakan akan melancarkan lebih banyak serangan ke ibu kota Ukraina dan “pusat pengambilan keputusan”-nya.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengklaim serangan yang telah dilancarkan di Kyiv adalah pembalasan atas serangan Ukraina terhadap sebuah sekolah kejuruan, yang menewaskan 21 orang di wilayah Luhansk yang diduduki Rusia.
Awal bulan ini, Rusia menyerukan warga negara asing dan diplomat untuk meninggalkan Kyiv ketika mengancam akan melakukan serangan besar-besaran di pusat ibu kota jika Ukraina mengganggu parade militer di Lapangan Merah.
Pada Senin (25/5/2026), Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov juga mendesak Amerika Serikat (AS) untuk mengevakuasi diplomat dari kedutaan besarnya di Kyiv selama berlangsung panggilan telepon dengan Menlu AS Marco Rubio.
“Sergei Lavrov menarik perhatian pada pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia dari tanggal 25 Mei, yang merekomendasikan agar Amerika Serikat, bersama dengan negara-negara lain yang memiliki misi di Kyiv, memastikan evakuasi personel diplomatik dan warga negara lainnya dari ibu kota Ukraina,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Rusia.
Peringatan evakuasi ini datang sehari setelah Rusia melancarkan gelombang serangan rudal dan drone besar-besaran dalam salah satu serangan terbesarnya di Kyiv sejak 2022, yang menewaskan dua orang dan melukai lebih dari 90 orang.
“Dalam keadaan saat ini, Angkatan Bersenjata Rusia mulai melancarkan serangan sistematis terhadap fasilitas industri militer Ukraina di Kyiv,” kata pernyataan Kemenlu Rusia.
“Serangan tersebut akan menargetkan pusat pengambilan keputusan dan pos komando… Kami memperingatkan warga negara asing, termasuk personel misi diplomatik dan organisasi internasional, untuk meninggalkan kota sesegera mungkin.”
(Euronews.com/nov)


