BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (23/9/2026), imbas harga minyak dunia turun di bawah level US$100 per barel.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah dibuka menguat 0,15% atau 27 poin menjadi Rp17.857 per dolar AS dari level sebelumnya Rp17.884 per dolar AS.
Hingga pukul 13:00 WIB, penguatan nilai rupiah terus berlanjut, terpantau berada di level Rp17.810 per dolar AS, naik 0,41% atau 74 poin dari level Rp17.884 pada penutupan perdagangan Selasa (22/9/2026).
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah membuka perdagangan hari ini dengan menguat 0,15% ke level Rp17.846 per dolar AS, dan terus berlanjut hingga menyentuh level Rp17.830 per dolar AS.
Penguatan rupiah hari ini ditopang oleh penurunan harga minyak dunia seiring kabar pertemuan antara pejabat tinggi AS dan Iran di sela-sela Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), untuk membahas kesepakatan perdamaian guna mengakhiri konflik Timur Tengah.
Presiden AS, Donald Trump, mengatakan pejabat tinggi AS telah menggelar pertemuan yang ‘sangat produktif’ dengan delegasi Iran untuk membahas kesepakatan perdamaian, dan keamanan jalur pelayaranan di Selat Hormuz.
Pernyataan ini meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap gangguan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah, yang melalui jalur pelayaran Selat Hormuz.
Pada sesi pagi perdagangan hari ini, harga minyak dunia jenis Brent yang menjadi acuan terpangkas 0,5% ke level US$98,75 per barel. Sedangkan harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) turun ke level 89,59%.
Pelemahan harga minyak dunia menjadi angin segar bagi mata uang Asia yang mayoritas menguat terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini. Selain rupiah, beberapa mata uang Asia yang menguat, antara lain Won Korea Selatan, Peso Filipina, Dolar Taiwan, Baht Thailand, dan Ringgit Malaysia.
Sentimen positif penguatan rupiah juga datang dari dalam negeri, seiring tingginya keyakinan pelaku pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI), yang akan diumumkan hari ini.
Konsensus pasar meyakini RDG-BI akan tetap mempertahankan suku bunga atau BI-Rate di kisaran level 5,75%, meskipun ada tekanan dari lonjakan inflasi global yang telah mendorong bank sentral negara-negara maju menaikkan suku bunga acuan.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi bergerak variatif dengan kecenderungan menguat terbatas di level Rp17.750 per dolar AS hingga Rp17.850 per dolar AS. (Jea)


