BRIEF.ID – Perhatian Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar terhadap rumah ibadah tidak hanya sebatas pada kehidupan spiritual umat, tetapi juga menyangkut kelayakan dan keindahan bangunan tempat umat berjumpa dengan Tuhan.
Hal itu terlihat saat Menag menghadiri Ibadah Syukur dan Perayaan HUT ke-78 GPIB dan 331 Tahun Gedung Gereja Sion, Jakarta Barat, Sabtu (7/11/2026). Menag secara langsung menyoroti kondisi fisik Gedung Gereja Sion yang dinilainya perlu segera mendapat perhatian dan perbaikan.
Menag secara khusus menginstruksikan Direktur Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Jeane Marie Tulung, untuk melakukan pengecatan serta memperbaiki bagian dinding gereja yang tampak tidak rata dan mengalami kerusakan.
“Kalau diizinkan, saya minta Dirjen Bimas Kristen untuk mengecat. Ini tidak elok dilihat, apalagi sangat historical. Mohon izin, mohon maaf, Bapak/Ibu,” kata Menag.

Gereja Bersejarah
Menag mengatakan, rumah ibadah merupakan tempat perjumpaan antara manusia dengan Tuhan. Karena itu, sudah selayaknya bangunan rumah ibadah mendapatkan perhatian khusus, baik dari segi kebersihan, keindahan, maupun kenyamanan.
Ia menegaskan, Gereja Sion yang dikenal sebagai salah satu gereja tertua di Asia Tenggara memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Usia bangunan yang telah mencapai 331 tahun seharusnya menjadi alasan semakin kuat untuk merawat dan memperindahnya.
Menag bahkan membandingkan kondisi rumah ibadah dengan berbagai tempat hiburan dan usaha komersial yang kerap tampil lebih menarik secara fisik.
“Masak kalah sama rumah perjudian di luar sana, masak kalah dengan tempat-tempat karaokean di sana, masak kalah dengan rumah-rumah nakal di sana. Bagaimana tidak betah orang ke sana. Sudah selayaknya kita memberikan prioritas untuk kelayakan rumah Tuhan ini,” ujarnya.
Lebih lanjut Menag menekankan bahwa fungsi rumah ibadah tidak hanya sebagai bangunan untuk melaksanakan ritual keagamaan. Gereja merupakan ruang sakral tempat umat memperoleh pencerahan, memperbaiki diri, dan menemukan ketenangan batin.
“Di tempat ini kita akan meluruskan jalan pikiran yang bengkok. Di tempat ini kita akan membersihkan jiwa yang kotor. Di tempat ini kita akan melembutkan hati yang keras. Di tempat ini kita akan melenturkan ego-ego kita semua,” tuturnya.
Ia juga mendorong agar pengelola Gereja Sion memperhatikan keberadaan ornamen, ikon, dan titik-titik sakral yang dapat memperkuat suasana spiritual sekaligus membuat jemaat semakin nyaman dan rindu untuk datang beribadah.
Menurutnya, rumah ibadah yang dikelola dengan baik bahkan dapat menjadi tempat bagi umat untuk mencurahkan isi hati, mendapatkan penguatan, dan menemukan kedamaian.
“Tempat untuk curhat kalau dikelola dengan baik, tidak akan kalah dengan tempat-tempat praktik para psikolog dan psikiater, karena psikolog dan psikiater curhatnya ke gereja, ke rumah-rumah ibadah yang lain,” jelasnya.
Menjaga Warisan Sejarah
Pada kesempatan itu, Menag secara khusus mengajak seluruh umat Kristen, terutama jemaat GPIB Sion, untuk bersama-sama menjaga dan memelihara bangunan gereja yang memiliki nilai sejarah tersebut.
Menurutnya, merawat Gereja Sion bukan semata-mata mempertahankan bangunan tua, melainkan menjaga warisan sejarah, perjalanan iman, serta identitas kehidupan beragama di Indonesia.
Keindahan rumah ibadah, lanjutnya, harus menjadi perhatian bersama agar generasi mendatang tetap dapat menikmati dan merasakan nilai sejarah serta spiritualitas yang terkandung di dalamnya.
Pesan Menag menjadi pengingat bahwa rumah ibadah bukan hanya tempat untuk berdoa, tetapi juga ruang yang menghadirkan kenyamanan, kedamaian, dan penguatan iman.
Gereja Sion dengan perjalanan sejarahnya selama lebih dari tiga abad diharapkan terus terpelihara, semakin indah, dan tetap menjadi tempat yang dirindukan umat untuk berjumpa dengan Tuhan.
Hadir pada kesempatan itu, jajaran Fungsionaris Majelis Sinode GPIB, di antaranya Ketua Umum Pendeta Nitis Putrasana Harsono, Pendeta Henry Teddy Tamaela (Ketua I), Pendeta Semuel A. Zacharias Karinda (Ketua II), Pendeta Sarah Martha Yuliana Tahitu-Hengkesa (Ketua III), Penatua Wicklief F. Luwy Leunufna (Ketua IV), Penatua Maxi Djelot Alierbitu Hayer (Ketua V), Pendeta Emmawati Yulia Rumampuk-Baule (Sekretaris I), Penatua Ivan Gelium Lantu (Sekretaris II), Penatua Steven G. Tunas (Bendahara), Penatua Gabby Manalu Sadoek (Bendahara I). Selain itu, para Pendeta dan Jemaat GPIB dari berbagai wilayah di Jabodetabek serta daerah lainnya. (nov)


