BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (16/9/2026) tertekan ekspetasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah berada di level Rp17.700 per dolar AS hingga pukul 11:30 WIB.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah Jisdor dibuka melemah 0,20% atau 36 poin menjadi Rp17.730 per dolar AS dibandingkan Rp17.694 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (15/9/2026).
Pelemahan rupiah terutama dipengaruhi ekspetasi kenaikan suku bunga The Fed atau Fed Funds Rate (FFR), yang akan diputuskan dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed.
Pada hari ini waktu setempat atau Kamis (17/9/2026) dini hari WIB, FOMC The Fed akan mengumumkan kebijakan moneter, di antaranya terkait suku bunga acuan atau FFR.
Konsensus pasar memperkirakan FOMC The Fed akan menaikkan FFR sebanyak 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4%, dengan peluang mencapai 92,4%.
Sementara berdasarkan FedWatch, pelaku pasar bulat bahwa The Fed akan menaikkan FFR sebesar 25 bps , dengan perkiraan mencapai 100%.
Lonjakan inflasi AS membuat pelaku pasar yakin FOMC The Fed akan menaikkan suku bunga acuan, apalagi konflik Timur Tengah belum sepenuhnya mereda.
Tekanan harga minyak dunia yang masih berada di atas level US$100 per barel, dikhawatirkan membuat lonjakan inflasi AS juga merembet ke pasar Asia.
Pada perdagangan hari ini, harga minyak dunia jenis Brent yang menjadi acuan global turun tipis ke level US$107 per barel, seiring stok harga minyak AS yang melimpah.
Mengutip Kantor Berita China Xinhua, sentimen pasar sangat dipengaruhi oleh Federal Open Market Committee (FOMC), yang memulai pertemuan kebijakan bulan September pada hari Selasa (15/9).
Potensi kenaikan suku bunga The Fed akan menjadi tekanan bagi Pasar Surat Utang Negara (SUN), yang berimbas pada nilai tukar rupiah. Pasalnya, pelaku pasar cenderung menarik modal dari pasar keuangan emerging market termasuk Indonesia, dan mengalihkan ke obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Hal itu terlihat dari hasil lelang SUN pada Selasa (15/9/2026), di mana total penawaran yang masuk merosot 7,58%, setara dengan Rp4,99 triliun, menjadi Rp60,96 triliun, dari lelang sebelumnya Rp65,96 triliun pada 1 Septeber 2026.
Hal itu, membuat imbal hasil (yield) rata-rata tertimbang SUN ikut naik. Pada SUN seri FR0111, dengan tenor 10 tahun, yield
naik menjadi 7,2% dari 7%.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, nilai tukar rupiah tersebut diprediksi bergerak melemah terbatas di kisaran level Rp17.690 per dolar AS hingga Rp17.750 per dolar AS. (Jea)


