Rupiah Melemah Dekati Rp18.000 per Dolar AS Saat Harga Minyak Dunia Turun, Ini Pemicunya

BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah melemah mendekati Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) saat harga minyak dunia turun di bawah level sebelum konflik Timur Tengah pecah pada 28 Februari 2026.

Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah ditutup melemah di level Rp17.986 pada sesi I perdagangan hari ini, Kamis (2/7/2026).

Sebelumnya nilai tukar rupiah pada awal perdagangan hari ini dibuka melemah 0,14% atau 26 poin menjadi Rp17.978 per dolar AS dibandingkan Rp17.952 per dolar AS pada penutupan Rabu (1/7/2026).

Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah juga dibuka melemah 0,14% ke level Rp17.975 per dolar AS, dan terus melemah ke level Rp17.992 per dolar AS pada akhir sesi I perdagangan hari ini.

Pelemahan rupiah terjadi saat harga minyak dunia terus melemah hingga berada di bawah level sebelum pecahnya konflik Timur Tengah pada 28 Februari 2026.

Seperti dilansir Reuters, harga minyak dunia jenis Brent turun 1,02% atau 73 poin menjadi US$70,84 per barel. Sedangkan harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 1,21% atau 83 poin ke level US$67,75 per barel.

Adapun harga minyak mentah dunia jenis Brent yang menjadi acuan berada di level US$72,46 per barel pada 27 Februari 2026. Sedangkan WTI tercatat berada di level US$64,92 per barel.

Pemicu lemahnya rupiah pada perdagangan hari ini terutama karena tekanan jual surat utang negara (SUN), seiring kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia yang menunjukkan perlambatan.

Melansir data Bloomberg, yield SUN tenor 1 tahun melonjak paling tajam 8,7 basis poin (bps) ke level 7,29%. Kenaikan juga terjadi pada tenor 4 tahun yang naik 1,1 bps ke 7,14%, tenor 5 tahun naik 0,2 bps ke 7,13%, lalu tenor 7 tahun meningkat 0,8 bps menjadi 7,17%, serta tenor 18 tahun yang melesat 6,8 bps ke level 7,40%.

Di sisi lain, sebagian tenor masih mencatat penurunan yield, antara lain SUN tenor 10 tahun yang menjadi acuan turun 0,6 bps ke level 7,17%, sementara tenor 12 tahun terkoreksi 1,4 bps dan tenor 30 tahun turun 0,2 bps. 

Selain itu, defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 yang terjadi setelah Indonesia mencatat 6 tahun surplus neraca perdagangan sejak Mei 2020, menjadi sentimen negatif.

Begitu juga dengan lonjakan inflasi akibata kenaikan harga bahan pokok di kelompok makanan dan minuman, menekan daya beli masyarakat, dan diperkirakan berimbas pada pertumbuhan ekonomi.

Investor juga mencermati kebijakan fiskal pemerintah untuk mengatasi lonjakan inflasi, dan tetap mendorong daya beli masyarakat sebagai kontributor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Terkait dengan itu, defisit fiskal diperkirakan masih melebar, untuk tetap membiayai program prioritas pemerintah yang tidak produktif, dan untuk stimulasi ekonomi. (jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

IHSG Menguat Uji Level 5.900, Lebih dari 500 Saham Naik Harga

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Rupiah Akhir Pekan Menguat Dipicu Pelemahan Indeks Dolar AS

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah menguat pada perdagangan...

Harga Emas Dunia Melonjak ke Level US$4.100 per Troy Ounce Imbas Data Ketenagakerjaan AS

BRIEF.ID - Harga emas dunia melonjak ke level psikologis...

Bulan Juni 2026, Perekonomian AS Menambah 57.000 Lapangan Kerja

BRIEF.ID – Perekonomian Amerika Serikat (AS) menambah lapangan kerja...