BRIEF.ID – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) membawa delapan tuntutan dalam aksi demonstrasi yang digelar hari ini Selasa 18 Agustus 2026.
Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahrah mengatakan seluruh tuntutan tersebut memiliki satu benang merah, yakni kekhawatiran terhadap kondisi ketika kekuatan negara semakin besar, sementara posisi rakyat justru semakin lemah.
“Ada 8 tuntutan, kurang lebih benang merah dari semua tuntutan itu adalah bahwa negara hari ini menjadi semakin lebih kuat, sementara rakyat menjadi lebih lemah,” tutur Fathimah di Jakarta, Selasa (18/8).
Menurutnya, delapan tuntutan itu mencakup sejumlah persoalan, termasuk pelaksanaan program-program pemerintah yang dinilai masih berjalan secara semrawut.
Salah satu yang disorot BEM UI itu adalah pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Fathimah menyinggung masih ada kasus keracunan yang melibatkan penerima manfaat program tersebut, termasuk anak-anak.
“Dengan masih banyak korban keracunan, bahkan anak-anak dari korban keracunan tersebut juga mengatakan bahwa mereka tidak ingin ada makan MBG lagi gitu ya, langsung ke Pak Sudaryono,” katanya.
Fathimah menilai evaluasi pemerintah terhadap persoalan tersebut belum menunjukkan hasil yang bermakna. Menurut dia, ukuran evaluasi bukan sekadar adanya proses perbaikan, melainkan memastikan persoalan serupa tidak terus berulang.
“Sejauh ini masih belum ada evaluasi yang bermakna gitu. Karena evaluasi yang bermakna adalah tidak terjadi lagi, bukan terus-terusan terjadi dalam setahun gitu,” ujarnya.
Fathimah mengatakan BEM UI memandang seluruh delapan tuntutan yang dibawa dalam aksi tersebut sama-sama mendesak dan penting. Dia juga menyebut tidak ada tuntutan yang ditempatkan sebagai persoalan sekunder.
“Dari tuntutan 8 itu sebetulnya semuanya sama-sama urgen ya, sama-sama sangat penting menurut kita, sama-sama harga mati,” tutur Fathimah.
Namun, dia kembali menegaskan persoalan utama yang ingin disampaikan mahasiswa adalah perlunya pembatasan terhadap kekuasaan pemerintah serta penguatan mekanisme check and balance.
“Tapi tadi benang merahnya bahwa negara ini semakin kuat, sementara rakyat semakin lemah dan tidak ada check and balance yang memadai, yang betul-betul bisa membuat pemerintah terbatas power-nya gitu,” ujarnya.
“Power kan sebetulnya harus dibatasi dan itu yang sebetulnya mengerikan bagi kita dan kita ingin itu tidak semakin jauh dari sini,” sambung Fathimah.

Di tengah aksi, Fathimah mengatakan BEM UI tetap berupaya menjalankan agenda demonstrasi semaksimal mungkin. Namun, keselamatan mahasiswa saat ini menjadi pertimbangan utama.
“Kita akan berusaha semaksimal mungkin, tapi dari kita sendiri tetap mengutamakan keamanan dari teman-teman mahasiswa juga sih,” kata Fathimah.
Dia mengaku pihaknya mempertimbangkan potensi situasi yang dapat terjadi di lapangan, terlebih terdapat aparat kepolisian dan TNI dalam pengamanan aksi.
“Karena kita tidak pernah tahu, polisi apalagi ada TNI akan seperti apa, kita mengutamakan keselamatan sih,” ujarnya.
Fathimah juga mempertanyakan alasan kepolisian yang disebut menahan massa aksi sehingga tidak dapat masuk ke kawasan Universitas Indonesia (UI).
Dia meminta masyarakat yang berada di sekitar lokasi aksi, termasuk pekerja di perkantoran, ikut mengklarifikasi klaim bahwa keberadaan demonstrasi mengganggu aktivitas mereka.
“Ini saya juga ingin minta bantuan kepada seluruh masyarakat, terutama mungkin yang ada di perkantoran-perkantoran di tempat kita demonstrasi hari ini untuk mengklarifikasi, mungkin mengkonfirmasi ya, apakah betul,” kata Fathimah.
Menurut Fathimah, pihak kepolisian melalui Reynold menyampaikan bahwa salah satu alasan pembatasan tersebut adalah adanya keluhan dari pekerja yang merasa terganggu dengan aksi demonstrasi.
“Nah, beliau tadi sudah siap untuk bertanggung jawab apabila pernyataan beliau ini salah dan mengklaim, mengatasnamakan semua orang padahal ternyata tidak, beliau bersedia untuk bertanggung jawab,” ujarnya.
Fathimah mengatakan BEM UI akan terus menunggu perkembangan aksi untuk menentukan langkah berikutnya. Jika masyarakat di sekitar lokasi memang merasa terganggu, mahasiswa akan mengevaluasi kembali pelaksanaan aksi. Namun, jika masyarakat justru mendukung aksi tersebut, dia meminta pihak kepolisian mempertanggungjawabkan pernyataannya.
“Kalau terganggu, makanya sudah kita akan evaluasi lagi apakah demonstrasi itu memang seharusnya tidak perlu ada lagi atau apabila mereka memang justru mendukung aksi kita, maka Pak Reynold kita tunggu untuk bertanggung jawab atas omongannya dan bertanggung jawab sudah menahan kita di sini dengan mengatasnamakan yang lain,” kata Fathimah.
“Kita akan melihat dulu hasil keberlangsungan hari ini, apakah kita berhasil masuk ke UI dan sebagainya. Nanti kita akan update lagi,” pungkasnya. (ayb)


