Sejumlah Fasilitas Rusak Akibat Gempa, Kemenhub Pastikan 6 Bandara di Flores Tetap Beroperasi

BRIEF.ID – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan seluruh bandar udara di Flores dan sekitarnya, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetap beroperasi normal setelah gempa bumi yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026).

Meski sejumlah fasilitas bandara mengalami kerusakan, operasional penerbangan tetap berjalan dengan menerapkan berbagai langkah mitigasi untuk memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa mengatakan tidak ada bandara di wilayah Flores dan sekitarnya yang ditutup akibat gempa.

Dia menjelaskan seluruh bandara masih dapat melayani penerbangan, termasuk untuk mendukung mobilisasi masyarakat, bantuan kemanusiaan, logistik, dan kebutuhan penanganan pascabencana.

“Kami memastikan seluruh bandara di Flores dan sekitarnya tetap beroperasi normal. Aspek keselamatan menjadi prioritas utama. Terhadap area-area yang berpotensi memiliki risiko, kami melakukan mitigasi dengan membatasi akses pengguna jasa pada area tersebut, tanpa mengganggu kelancaran operasional penerbangan,” tutur Lukman dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (18/8).

Menurutnya berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan menunjukkan kerusakan terjadi pada sejumlah fasilitas, mulai dari bangunan terminal, kantor, menara pengawas hingga fasilitas penunjang operasional.

Salah satunya di Bandara Komodo, Labuan Bajo, kerusakan ditemukan pada plafon terminal dan fire station. Tidak hanya itu, retakan juga terdapat pada dinding gedung administrasi serta fillet Taxiway A.

Lukman menyebut pembersihan terminal telah dilakukan dan penerbangan tetap berlangsung normal dan menara pengawas juga telah kembali beroperasi normal.

Pada tahap awal penanganan, komunikasi penerbangan juga sempat menggunakan perangkat VHF-A/G portable yang ditempatkan di luar tower.

Sementara itu, pada Bandara H. Hasan Aroeboesman, Ende, mengalami kerusakan plafon terminal, retakan pada dinding gedung PKP-PK, serta kerusakan pada struktur tower.

Pelayanan lalu lintas udara kemudian dialihkan ke Watchroom Gedung PKP-PK sebagai bagian dari contingency plan. Operasional penerbangan tetap berjalan dengan memperhatikan aspek keselamatan.

Di Bandara Umbu Mehang Kunda, Waingapu, kerusakan terjadi pada partisi dinding kaca gedung terminal lantai 2. Perbaikan struktur sedang dilakukan, sementara akses ke area yang berpotensi membahayakan pengguna jasa dibatasi.

Kendati demikian, operasional bandara dan navigasi penerbangan tetap berjalan normal.

Kerusakan juga ditemukan di Bandara Frans Sales Lega, Ruteng, meliputi arsitektur ACP terminal, plafon ruang rapat dan kantor, dinding PKP-PK, serta tower.

Pembersihan terminal dan evaluasi struktur lanjutan masih dilakukan. Berdasarkan pemeriksaan, sisi udara bandara dinyatakan tetap aman dan dapat digunakan untuk melayani penerbangan.

Di Bandara Fransiskus Xaverius Seda, Maumere, kerusakan relatif ringan, yakni pada plafon dan kaca terminal lantai 2. Sementara itu, runway dan apron dalam kondisi baik.

Bandara tersebut tetap beroperasi dan turut mendukung pergerakan bantuan serta mobilisasi unsur pemerintah, termasuk pergerakan Presiden Republik Indonesia dan unsur TNI/Polri.

Kondisi berbeda ditemukan di Bandara Soa Bajawa. Selain kerusakan pada plafon dan kaca terminal serta retakan pada dinding dan kolom sejumlah bangunan, pemeriksaan juga menemukan retak memanjang pada runway.

Kemenhub melakukan sejumlah mitigasi, antara lain membersihkan material, mengamankan peralatan, menggunakan VHF-A/G portable, serta memindahkan armada PKP-PK ke luar gedung.

Langkah tersebut dilakukan sebagai antisipasi terhadap kemungkinan gempa susulan. Penerbangan tetap dilayani dengan pembatasan akses pada sejumlah area yang dinilai memiliki potensi risiko.

Lukman menegaskan bahwa status operasional bandara tidak berarti seluruh penerbangan otomatis berjalan tanpa penyesuaian.

“Bandar udara tetap beroperasi, namun keselamatan penerbangan merupakan prioritas utama. Selain itu, maskapai penerbangan memiliki kewenangan untuk melakukan evaluasi operasional dan penyesuaian penerbangan berdasarkan kondisi aktual di lapangan, termasuk apabila hasil assessment internal menunjukkan perlunya penundaan atau pembatalan penerbangan untuk memastikan keselamatan,” kata Lukman.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara bersama Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV, AirNav Indonesia, TNI/Polri, BNPB, Basarnas, dan pemerintah daerah terus melakukan pemantauan serta koordinasi.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan penerbangan sekaligus menjaga kesiapan bandara dalam mendukung kebutuhan masyarakat dan penanganan dampak gempa.

Kemenhub juga meminta masyarakat dan pengguna jasa penerbangan mematuhi arahan petugas bandara, terutama terkait pembatasan akses di area tertentu.

Pengguna jasa juga diminta tidak memasuki area yang telah dinyatakan terbatas demi keselamatan bersama. (ayb)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

700 Ribu Kendaraan Lewati Tol Regional Nusantara Saat Libur HUT RI, Bali dan Manado Paling Ramai

BRIEF.ID - Libur panjang dalam rangka Hari Kemerdekaan Republik...

BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Soroti Negara Makin Kuat tapi Rakyat Makin Lemah

BRIEF.ID – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI)...

Tak Sekadar Jaga Kedaulatan, 15 PLBN Jadi Ujung Tombak Pemerataan Pembangunan di Perbatasan

BRIEF.ID - Kawasan perbatasan Indonesia tak lagi hanya dipandang...

Komisi III DPR Kejar Pengesahan RUU Perampasan Aset Sebelum Akhir Tahun Ini

BRIEF.ID - Komisi III DPR RI menargetkan agar Rancangan...