BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah masih melemah di level Rp18.000 pada perdagangan hari ini, Kamis (9/7/2026), akibat tertekan sentimen luar negeri dan domestik.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah hari ini dibuka melemah 0,29% atau 52 poin menjadi Rp18.066 per dolar AS dari level sebelumnya Rp18.014 per dolar AS.
Hingga pukul 11:30 WIB, nilai tukar rupiah Jisdor terpantau masih tertekan di zona merah dan berada di level Rp18.096, turun 82 poin atau 0,45% dari Rp18.014 pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026).
Sementara nilai tukar rupiah di pasar spot pada perdagangan hari ini, dibuka terkoreksi 0,31% ke level Rp18.055 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah terus berlangsung hingga menyentuh level Rp18.100 per dolar AS.
Pelemahan mata uang garuda pada perdagangan hari ini, dipicu tekanan sentimen negatif dari luar negeri dan semakin diperparah dengan kondisi ekonomi domestik.
Dari luar negeri, sentimen yang menekan rupiah dipicu konflik Timur Tengah yang kembali memanas, seiring serangan AS ke Iran, yang sekaligus menandai berakhirnya gencatan senjata antarkedua negara.
Presiden AS, Donald Trump, menyebut kesepakatan damai sementara dengan Iran telah berakhir. Bahkan Trump menilai kesepakatan gencatan senjata dengan Iran hanya membuang-buang waktu.
Serangan AS ke Iran membuat harga minyak dunia melonjak. Pada penutupan perdagangan kemarin, harga minyak dunia jenis Brent melejit 5,21% menjadi US$78,02 per barel. Kenaikan harga minyak dunia terus berlanjut pada sesi pagi perdagangan hari ini, yakni sebesar 1% menjadi US$78,80 per barel.
Kenaikan harga minyak, yang diikuti dengan penguatan indeks dolar AS di level 101,01, menekan mayoritas mata uang Asia. Selain rupiah, Won Korea Selatan, Dolar Taiwan, Baht Thailand, Peso Filipina, hingga Ringgit Malaysia juga melemah terhadap dolar AS.
Sementara sentimen domestik yang menekan rupiah dipicu data ekonomi yang menunjukkan perlambatan. Paling baru, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun selama tiga bulan beruntun menjadi 117,8 pada Juni 2026 dari level 120,9 pada Mei 2026.
Tekanan inflasi yang makin meningkat seiring lonjakan harga barang imbas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), juga semakin menekan rupiah, sehingga Bank Indonesia (BI) harus extra keras melakukan intervensi.
Intervensi BI sempat membuat rupiah Jisdor menguat ke level Rp17.999, namun hanya sesaat karena rupiah kembali terpuruk ke level Rp18.000 bahkan mendekati level Rp18.100.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diprediksi bergerak melmah terbatas di kisaran level Rp17.900 hingga level Rp18.100. (jea)


