Rupiah Kembali Loyo di Level Rp17.900 Dipicu Defisit APBN dan Lonjakan Harga Minyak Dunia

BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah kembali loyo ke level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS) dipicu defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), dan lonjakan harga minyak dunia.

Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Rabu (22/7/2026), kurs rupiah dibuka melemah 0,23% atau 42 poin menjadi Rp17.930 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.888 per dolar AS.

Pelemahan nilai tukar rupiah Jisdor perlahan menipis, namun masih berada di level Rp17.900. Hingga pukul 11:30 WIB, rupiah Jisdor terpantau melemah 0,13% atau 25 poin di level Rp17.913 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah datang dari sentimen domestik dan luar negeri. Dari dalam negeri, defisit APBN yang meningkat per Juni 2025, membuat investor kembali memasang mode wait and see (menunggu).

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Juli 2026 di Jakarta, Selasa (21/6/2026), menyampaikan defisit APBN per Juni 2026 mencapai Rp196,5 triliun atau sekitar 0,76% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Defisit APBN per Juni 2026 tersebut, meningkat dibandingkan posisi per Mei 2026, yang mencatatkan defisit sebesar Rp180,4 triliun, atau setara dengan 0,70% dari PDB.

Meski demikian, Purbaya mengatakan defisit APBN per Juni 3026 tetap terkendali, seiring
pendapatan yang tumbuh kuat, belanja yang produktif, dan belanja yang dikelola secara terukur.

Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga dipicu konflik Timur Tengah yang memanas, seiring serangan terbaru AS ke Iran, yang berimbas pada lonjakan harga minyak dunia.

Seperti dilansir Reuters, harga minyak dunia jenis Brent naik 0,55% atau 50 poin menjadi US$91,51 per barel pada awal perdagangan hari ini. Sementara harga minyak dunia jenias West Texas Intermediate (WTI) AS justru menguat 0,36% atau 30 poin ke level US$84,64 per barel.

Pemerintah AS menyatakan kembali melancarkan serangan terbaru yang menyasar  militer Iran, pada Selasa (21/7/2026) malam waktu setempat, atau Rabu (22/7/2026) dini hari waktu Iran.

Operasi tersebut menandai malam ke-11 berturut-turut AS menggempur target-target militer Iran. Tak lama setelah itu, Iran melancarkan serangan udara dengan drone ke Kuwait.

Sementara militer Kuwait melaporkan sistem pertahanan udaranya telah mencegat sejumlah drone Iran yang memasuki wilayah negara tersebut.

Rangkaian serangan terbaru antara AS-Iran memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dunia dari kawasan Timur Tengah.

Kekhawatiran tersebut, membuat harga minyak dunia yang sempat turun di bawah level US$90 per barel, kembali melonjak menembus level US$91 per barel pada perdagangan hari ini.

Pelaku pasar kini menunggu keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) terkait suku bunga acuan, sehingga rupiah diprediksi bergerak variatif dengan potensi melemah terbatas.

Pasalnya, RDG-BI diprediksi akan tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di kisaran 5,75% untuk mengendalikan inflasi, dibandingkan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi bergerak di kisaran level Rp17.850 per dolar AS hingga Rp17.950 per dolar AS. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Gerindra Tegaskan Prabowo-Gibran Tetap Solid

BRIEF.ID – Partai Gerindra membantah berbagai spekulasi yang berkembang...

Pemerintah Siapkan Ekonomi Kreatif Indonesia Tembus Pasar Global

BRIEF.ID – Pemerintah resmi menetapkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor...

Pendapatan Daerah DKI Jakarta Tembus Rp29,29 T, Pramono Klaim Ekonomi Tumbuh 5,59 Persen

BRIEF.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mencatat realisasi...

Yen Sentuh Titik Terendah dalam 40 Tahun

BRIEF.ID - Pemerintah Jepang kembali meningkatkan kewaspadaan terhadap pelemahan...