BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), pada perdagangan akhir pekan, Jumat (4/9/2026). Hal itu, seiring tren pelemahan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury, dan indeks dolar AS.
Berdasarkan data transaksi antarbak di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hingga pukul 13:00 WIB, kurs rupiah terpantau menguat di level Rp17.630 per dolar AS.
Sebelumnya pada awal perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah Jisdor dibuka menguat 0,29% atau 51 poin menjadi Rp17.628 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.679 per dolar AS.
Sementara di pasar spot, kurs rupiah dibuka menguat 0,1% ke level Rp17.642 per dolar AS, dan terus berlanjut hingga sempat menyentuh level Rp17.628 per dolar AS.
Penguatan rupiah hari ini, dipicu oleh meredanya ekspektasi pelaku pasar terhadap sikap hawkish Bank Central AS atau Federal Reserve (The Fed), seiring data ketenagakerjaan AS, yang diperkirakan lesu.
Pelaku pasar melihat lemahnya pasar tenaga kerja yang akan diumumkan hari ini, dapat menjadi alasan The Fed untuk kembali menahan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR).
Hal itu dapat membuat tren pelemahan yield US Treasury dan indeks dolar AS berlanjut, sehingga memberi ruang penguatan bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Hal itu sudah terlihat pada pergerakan mayoritas mata uang Asia yang berada di zona hijau, pada perdagangan akhir pekan ini, antara lain Baht Thailand, Peso Filipina, Dolar taiwan, Dolar Singapura, Yen Jepang, dan Yuan Tiongkok.
Penguatan rupiah juga dipengaruhi stabilnya harga minyak dunia Jenis Brent di level US$90 per barel, meskipun sempat terjadi ketegangan antara pasukan militer Iran dan AS, di perairan Selat Hormuz.
Untuk perdagangan akhir pekan ini, IHSG diprediksi bergerak menguat terbatas di kisaran level Rp17.600 per dolar AS hingga Rp17.700 per dolar AS. (Jea)


