Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah, Kekhawatiran Kondisi Fiskal Indonesia Masih Membayangi

BRIEF.ID –  Nilai tukar (kurs) rupiah hari ini, Kamis (21/5/2026), masih ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dipicu kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia, yang masih membayangi investor.

Pada akhir perdagangan hari ini, kurs rupiah ditutup melemah 13 poin ke level Rp17.667 perdolar AS dibandingkan Rp17.653 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (20/5/2026).

Pelemahan rupiah terjadi ketika mayoritas mata uang Asia mengalami rebound dan ditutup menguat terhadap dolar AS, antara lain Rupee India, Peso Filipina, Baht Thailand, Dolar Taiwan, Ringgit Malaysia, dan Yuan Tiongkok.

kebijakan Bank Indonesia untuk memperketat kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25%, belum mampu mendongkrak rupiah.

Hal itu, disebabkan tekanan arus modal keluar (capital outflow) masih dilancarkan investor, seiring kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Sejumlah kebijakan pemerintah dinilai berisiko memperburuk kondisi fiskal, karena dinilai terlalu populis dan menelan anggaran jumbo. Hingga saat ini, penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) belum dilakukan menyeluruh, padahal harga minyak mentah sudah melampau asumsi di APBN 2026.

Hal itu, dikhawatirkan akan membuat subsidi BBM membengkak dan memperlebar defisit fiskal, apalagi rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang posisinya yang paling rendah di antara negara-negara G20.

Sebagai pembanding, rasio pendapatan negara terhadap PDB di Meksiko adalah 25% dan India 20%. Sedangkan di level Asia Tenggara, Filipina 21% dan Kamboja saja 15%. Adapun Indonesia hanya tercatat sebesar 11-12% dari PDB.

Hari ini, harga minyak jenis Brent masih bertahan tinggi di level US$105 per barel. Kenaikan harga minyak masih membayangi laju inflasi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dikhawatirkan jika kebijakan makro ekonomi untuk mengatasi dampak inflasi akibat kenaikan harga minyak dunia, maka kerja Bank Indonesia semakin berat, karena harus mengendalikan inflasi dan di saat bersamaan menstabilkan nilai tukar rupiah.

Sepanjang tahun ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah melemah sekitar 5,5%. Cadangan devisa pun menipis, karena BI terus mengintervensi pasar untuk menstabilkan rupiah.

Selain itu, intervensi juga dilakukan di pasar Surat Utang Negara, karena imbal hasil atau yield, yang terus melonjak, akibat ekanan capital outflow oleh investor asing.

Hari ini, otoritas kembali melakukan intervensi untuk meredam gejolak di pasar obligasi. Menteri Keuangan sebelumnya mengatakan intervensi pembelian obligasi dilakukan dengan target alokasi dana Rp2 triliun per hari. 

Sebenarnya ada sentimen positif dari luar negeri, seiring perundingan damai AS dan Iran, yang dikabarkan telah mencapai tahap akhir. Meski demikian, hal ini justru membuat indeks dolar AS meningkat, sehingga investor lebih memilih menepas aset di emerging market dan beralih ke dolar AS.

Untuk perdagangan akhir pekan, Jumat (22/5/2026), nilai tukar rupiah diprediksi masih bergerak variatif dengan potensi melemah tipis di kisaran Rp17.550 per dolar AS hingga Rp17.700 per dolar AS, kecuali jika kabar perdamaian AS-Iran sudah pasti dan membuat harga minyak dunia turun. (jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

BI: Batasan Pembelian Valas Jadi US$25.000 Berlaku Juni 2026

BRIEF.ID - Bank Indonesia (BI) akan memberlakukan batasan pembelian...

BPOM Temukan 22 Obat Bahan Alam Berbahaya Mengandung BKO

BRIEF.ID - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan...

IHSG Ditutup Nyaris Terhempas dari Level 6.000, Terlemah di Kawasan Asia

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Kementerian Perindustrian Perkuat Keamanan Produk Pangan

BRIEF.ID - Kementerian Perindustrian terus mendorong penguatan sistem keamanan...