BRIEF.ID – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB-UI), Rhenald Kasali, mengkritisi pernyataan sejumlah influencer yang menyebut rupiah melemah merupakan bagian strategi pemerintah.
Kritikan itu, disampaikan Rhenald Kasali, dalam video yang diunggah di akun Instagram-nya, @rhenaldkasali, pada Kamis (21/5/2026). Salah satu influencer yang dikritisi Rhenald adalah Benny Hutabarat atau dikenal dengan nama Bennix, pendiri Sekolah Saham Benix.
Unggahan Rhenald Kasali menayangkan potongan video Bennix di TikTok, yang menjelaskan bahwa ketika rupiah melemah, masyarakat seharusnya tidak usah panik, karena Indonesia justru akan cuan (untung).
“Ternyata ketika rupiah melemah, Indonesia diuntungkan. Kalau Indonesia mau jadi negara maju, ya rupiah harus melemah, simpel aja, kenapa China bisa sedemikian powerful, ekonominya bangkit? Simpel karena Yuan lemah, sengaja bahkan dilemahkan sama pemerintahnya,” kata Bennix dalam video tersebut.
Menurut Bennix, mata uang Yuan sengaja dilemahkan oleh Pemerintah China supaya barang-barang Made in China harganya lebih murah. Misalnya, kompor Made in China lebih murah dibanding kompor Made in Amerika Serikat.
“Jadi, kalau lu berpikir waras, lu pengen negara lu maju, mau enggak mau kita bahkan wajib melemahkan mata uang kita sendiri. Jadi, lu enggak usah panik kalau rupiah naik ke Rp17.000 per dolar AS, enggak usah panik. Kenapa? Indonesia bisa tambah cuan,” ujar Bennix.
Menanggapi pernyataan Bennix tersebut, Rhenald Kasali mengatakan bahwa ekonomi bekerja secara kesatuan, tidak bisa dipandang hanya dari sisi pelemahan rupiah saja.
“Nah, ini kelihatan sekali enggak ngerti teori ekonomi. Gak ngerti. Bagaimana ekonomi bekerja? Ekonomi bekerja suatu ke-satuan, enggak bisa kita ngomong seperti itu begitu saja,” ungkap Rhenald.
Dia menjelaskan, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi ketika suatu negara menerapkan strategi melemahkan mata uang untuk menguntungkan perekonomian domestik, dan menguasai pasar internasional.
Syarat pelemahan mata uang sebagai strategi untuk menuai untung, dan menguasai pasar internasional, yaitu cadangan devisa harus besar, surplus perdagangan juga besar, dan infrastruktur perdagangan dan produksi nasional sudah matang.
“Ini kita apa-apa impor, bahan mentahnya impor, bahan bakunya impor bahan kimia impor, packagingnya impor, lalu kemudian yang kita punya cuma tenaga kerja dan market di domestik makanya kebanyakan kita akhirnya, fokus domestik,” tutur Rhenald.
Kondisi ini, lanjutnya, berbeda ketika Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan China memulai ekspor untuk menguasai pasar internasional, dan menjadikan pelemahan mata uang sebagai bagian strategi, yang komprehensif.
Bank Sentral
Perbedaannya adalah ketika pelemahan mata uang menjadi bagian dari strategi pemerintah, maka bank sentral negara tersebut tidak akan menahan atau melakukan intervensi untuk menstabilkan nilai tukar mata uang saat melemah.
Sementara ketika rupiah melemah, Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi di seluruh pasar. Hal itu terlihat dari dana yang digelontorkan BI untuk menstabilkan rupiah sejak Desember 2025 hingga saat ini, yang diperkirakan sekitar US$10 miliar.
“US$10 miliar itu artinya BI mengeluarkan Rp170 triliun untuk menahan rupiah supaya tidak jatuh terlalu dalam? Bisa kita lihat, hari Jumat (15/5/2027) harganya udah Rp16.800 per dolar AS, ditahan oleh BI menjadi Rp16.600 per dolar AS, tapi hari Senin (18/5/2026) udah naik lagi di atas Rp17.000 per dolar AS. Jadi BI itu harus gelontorkan setiap bulan sekitar US$2 miliar sampai US$3 miliar,” kata Rhenald.
Rhenald juga membantah bahwa pelemahan rupiah saat ini merupakan strategi pemerintah, karena bertentangan dengan sejumlah pernyataan yang disampaikan oleh pejabat terkait.
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan akan berupaya mengembalikan rupiah ke Rp15.000 per dolar AS. Bahkan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato di hadapan DPR menyampaikan asumsi rupiah dalam RAPBN 2027 di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.
“Jadi bukan strategi itu. Pernyataan Pak Purbaya bahkan Presiden Prabowo bertengtangan dengan pernyataan influencer bahwa pelemahan rupiah merupakan strategi,” kata Rhenald.
Dia menjelaskan, ketika rupiah sekarang melemah, dampaknya terasa ke semua lapisan masyarakat. Bahan Bakar Minyak (BBM) bayar pakai dolar, mau usaha bahan bakunya juga bayar pakai dolar. Semuanya dibayar pakai dolar karena sebagian besar adalah impor.
Dengan pelemahan rupiah saat ini, sementara bahan baku produksi industri Indonesia sebagian besar diimpor, maka ada dampak yang akan dihadapi, yakni biaya produksi meningkat.
Dia mengungkapkan, ekspor Indonesia juga masih mengandalkan komoditas sumber daya alam, dalam bentuk produk mentah, yang harganya pun berfluktuasi terhadap dolar AS.
“Kalau harga komoditasnya turun, dan rupiahnya sengaja dibikin melemah, sampai kapan pun tidak akan menguntungkan bagi bangsa. Bagaimana menurut kalian, tepatkah bahwa pelemahan rupiah ini adalah karena strategi? Atau karena ketidakberdayaan kita dalam menahan ini semua (gejolak global)?” ujar Rhenald.
Menutup unggahannya, Rhenald meminta para influencer untuk berhati-hati saat membuat pernyataan tentang kondisi ekonomi, yang bukannya mengedukasi masyarakat, justru menunjukkan ketidakpahaman mereka terhadap teori ekonomi.
“Jadi mereka yang ngomong sebagai influencer, agar berhati-hati. Masyarakat kita semakin pandai dan ekonomi tidak bisa dilihat sepotong-sepotong. Semuanya harus konsisten menjadi kesatuan,” ungkap Rhenald. (jea)


