Rupiah Ditutup Menguat Tinggalkan Level Rp18.000 per Dolar AS Imbas BI-Rate Naik Jadi 5,50%

BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah pada perdagangan Selasa (9/6/2026), ditutup menguat hingga meninggalkan level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) imbas kenaikan suku bunga Bank Indonesia atau BI-Rate menjadi 5,50%.

Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah ditutup di level Rp17.954 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp18.188 per dolar AS.

Penguatan nilai tukar rupiah terjadi seiring intervensi Bank Indonesia (BI), yang mengumumkan kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin (Bps) menjadi 5,50% pada hari ini.

Kebijakan kenaikan suku bunga acuan tersebut merupakan hasil kesepakatan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI), pada Selasa (9/6/2026).

“Selain itu, RDG-BI juga memutuskan menaikan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%,” kata Perry Warjiyo, dalam pernyataan resmi, di Jakarta, hari ini.

Dia menjelaskan, ada 3 alasan yang mendasari keputusan RDG-BI kembali menaikkan BI-Rate. Pertama, sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah.

Kedua, sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% seperti yang ditetapkan Pemerintah.

Ketiga, untuk meningkatkan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portfolio asing ke Indonesia.

Perry menjelaskan, selain menaikkan BI-Rate menjadi 5,50%, BI juga menempuh langkah-langkah penguatan stabilisasi nilai tukar Rupiah untuk meningkatkan imbal hasil, dengan sejumlah insentif moneter bagi masuknya aliran investasi asing.

Ada 4 insentif moneter yang diberikan, antara lain kenaikan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan.

Selanjutnya, pemberian insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing.

Kemudian pembukaan kembali window lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor-tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bagi perbankan.

“BI juga meningkatan intensitas operasi moneter baik Rupiah maupun valuta asing,” ungkap Perry.

Intervensi BI melalui kenaikan BI-Rate dan pemberian sejumlah insentif moneter tersebut, mampu menahan laju aliran modal keluar (capital outflow), sehingga rupiah Jisdor akhirnya ditutup menguat kembali di bawah level psikologis Rp18.000.

Padahal sebelumnya meski rupiah hari ini dibuka menguat, pergerakannya sempat berbalik arah ke zona merah, bahkan melemah hingga menyentuh level Rp18.186 per dolar AS.  (jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

35 Tahun Twilite Orchestra, Dari Jakarta Membawa Penonton ke Opera House Eropa

BRIEF.ID - Ada konser yang selesai ketika musik berhenti....

Korban Keracunan MBG Tembus 43.838 Korban, PBHI Desak Pemerintah Evaluasi Total Program MBG

BRIEF.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menghadapi...

Prabowo Larang Pembakaran Lahan atas Nama Kearifan Lokal, Pemerintah Siapkan Penegakan Hukum

BRIEF.ID - Pemerintah memperketat langkah pencegahan kebakaran hutan dan...

Polri Tetapkan 138 Tersangka Karhutla, 8 Korporasi Masuk Penanganan Kasus

BRIEF.ID - Polri tetapkan 138 orang menjadi tersangka kasus...