BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah pada perdagangan hari ini, Rabu (21/10/2026), ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75%.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah ditutup melemah 0,16% atau 30 poin ke level Rp18.022 per dolar AS dari level Rp17.992 per dolar AS pada penutupan Selasa (20/10/2026).
Padahal di awal perdagangan, nilai tukar rupiah Jisdor dibuka stabil di kisaran level Rp17.992 per dolar AS. Bahkan, kurs rupiah Jisdor sempat menguat hingga 0,12% atau 22 poin ke level Rp17.970 per dolar AS.
Pergerakan rupiah yang variatif dipengaruhi faktor eksternal, yakni lonjakan harga minyak dunia, seiring ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka 0,78% menjadi US$ 109,64 per barel pada pukul 00.22 GMT. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) naik 0,78% menjadi US$ 98,58 per barel.
Tingginya harga minyak dunia membuat kekhawatiran terkait tekanan biaya energi terhadap inflasi semakin meningkat. Hal itu, akan mendorong lonjakan inflasi global, yang mendesak bank sentral di berbagai negara menaikkan suku bunga acuan.
Dengan demikian, penguatan rupiah hari ini lebih dipengaruhi faktor domestik, yakni hasil RDG-BI, yang antara lain menahan BI-Rate di kisaran 5,75%.
RDG BI telah menahan suku bunga dalam tiga pertemuan beruntun, yakni pada Agustus 2026, September 2026, dan Oktober 2026.
Sentimen Investor Asing
Dalam konferensi pers hasil RDG BI hari ini, Gubernur BI Destry Damayanti, mengatakan nilai tukar rupiah tercatat melemah 0,61 % sepanjang Oktober 2026.
Pelemahan rupiah dipengaruhi kondisi ekonomi dan geopolitik global yang bergejolak, arah kebijakan moneter AS, dan arus modal keluar (capital outflow).
“Pelemahan rupiah sepanjang Oktober 2026 dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter AS yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham,” ujar Destry.
Dia menegaskan, BI berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter, termasuk memperkuat kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas.
Insentif tersebut tidak hanya diberikan untuk instrumen Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Beli Lindung Nilai Konvensional kepada BI, tetapi juga untuk transaksi Local Currency Transaction (LCT), dengan negara mitra sehingga imbal hasil aset rupiah menjadi tetap menarik.
“Sejak diberlakukan pada Juni 2026, kebijakan ini berhasil menarik aliran masuk modal asing sebesar US$9,9 miliar per 20 Oktober 2026,” kata Destry.
Dia menambahkan, BI memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak stabil didukung komitmen bank sentral, imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali dalam sasaran, dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik. (Jea)


