BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) melesat ke level 5.300 imbas suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-Rate ditahan di kisaran 5,75%.
Pada akhir perdagangan Rabu (21/10/2026), IHSG ditutup menguat 0,94% atau49,47 poin ke level 5.328. Sebelumnya pada awal perdagangan, IHSG dibuka menguat
0,61% atau 31,96 poin ke level 5.310.
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak variatif (sideways), namun berakhir di zona hijau, dengan menyentuh level terendah di 5.158, dan level tertinggi di 5.328.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 369 saham naik harga, 308 saham turun harga, dan 116 saham tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Volume saham yang ditransaksikan sepanjang perdagangan hari ini mencapai 35,065 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.835.979 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp17,903 triliun.
Investor asing mencatat nilai bersih jual atau net foreign sell di pasar reguler sebesar Rp527,80 miliar, dengan nilai beli bersih atau net foreign buy (pasar tunai dan pasar negosiasi) sebesar Rp457,09 miliar.
Penguatah IHSG terjadi seiring pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang kembali menahan suku bunga acuan atau BI-Rate di kisaran 5,75%.
Pengumuman tersebut, membuat saham-saham sektor keuangan kembali diburu investor, terutama saham 4 bank besar, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Harga BBCA melesat 1,44% atau Rp75 menjadi Rp5.275 per lembar, BMRI menguat 0,27% atau Rp10 menjadi Rp3.700 per lembar, BBRI melonjak 0,72% atau Rp20 menjadi Rp2.810 per lembar, dan BBNI naik 0,93% atau Rp30 menjadi Rp3.250 per lembar.
Meski menahan BI-Rate, RDG BI memutuskan suku bunga deposit facility naik sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5%, dan tetap mempertahankan suku bunga lending facility di level 6,5%.
Hal itu, menjadi keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung selama dua hari, pada 20-21 Oktober 2026.
“Kebijakan moneter ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang makin kuat, serta upaya menjaga pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5 plus minus 1 persen pada tahun 2026 dan 2027,” kata Destry, dalam konferensi pers hasil RDG BI, di Jakarta, Rabu (21/10/2026). (Jea)


