BRIEF.ID – Peningkatan peringkat transportasi publik Jakarta ke posisi ke-15 dunia belum menjadi alasan bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk berpuas diri.
DPRD DKI Jakarta justru mendorong penambahan kapasitas Light Rail Transit (LRT) dan armada pengumpan agar peningkatan konektivitas transportasi di Ibu Kota diikuti kemampuan melayani kebutuhan perjalanan masyarakat.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wa Ode Herlina, menilai penambahan kapasitas angkutan umum perlu menjadi perhatian pemerintah daerah.
Menurutnya, pengembangan jaringan transportasi juga harus dibarengi dengan ketersediaan armada yang memadai, terutama untuk mengakomodasi mobilitas warga pada jam sibuk.
Salah satu usulan yang disampaikan Wa Ode adalah menambah jumlah gerbong LRT Jakarta dari dua menjadi tiga gerbong dalam setiap rangkaian. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya angkut penumpang seiring pengembangan konektivitas antarmoda di Ibu Kota.
“Kalau bisa, gerbongnya jadi tiga gitu loh setiap rangkaian. Kalau sekarang baru dua kan, diperbanyak gerbongnya,” tuturnya dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (21/10).
Politikus PDI Perjuangan itu menegaskan, penambahan kapasitas diperlukan agar perluasan jaringan transportasi tidak hanya menghasilkan konektivitas secara fisik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi pengguna. Ketersediaan kapasitas yang cukup menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung perjalanan masyarakat.
“Supaya Jakarta terus terhubung, makin terhubung. Pak Pram kan bilang LRT-nya terkoneksi,” katanya.
Selain penambahan gerbong, Wa Ode mendorong penguatan armada angkutan pengumpan atau feeder. Menurut Wa Ode, layanan pengumpan berperan penting dalam menjangkau kawasan permukiman yang belum terhubung langsung dengan jaringan transportasi massal.
Ketersediaan layanan pengumpan juga menentukan kemudahan masyarakat dalam mengakses stasiun atau halte. Tanpa dukungan konektivitas pada perjalanan awal dan akhir, jaringan transportasi yang terintegrasi belum tentu menjadi pilihan praktis bagi warga yang tinggal jauh dari simpul angkutan umum.
Dari sisi ekonomi rumah tangga, transportasi umum yang terintegrasi dan terjangkau berpotensi menekan biaya perjalanan harian. Penghematan tersebut dapat memberi ruang bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan lain, sekaligus memperkuat daya tarik angkutan umum dibandingkan kendaraan pribadi.
Dorongan DPRD tersebut muncul setelah sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan kenaikan peringkat transportasi publik Jakarta ke posisi ke-15 dunia. Pengumuman itu disampaikan seusai peresmian dua embung di Cipayung, Jakarta Timur, Senin (19/10/2026).
“Jakarta sekarang ini untuk dunia, yang tahun lalu menduduki peringkat 17, naik menjadi peringkat 15 dunia,” kata Pramono.
Peningkatan dua peringkat tersebut merujuk pada survei majalah Time Out 2026 yang melibatkan sekitar 24.000 responden. Berdasarkan data yang disampaikan Pramono, sebanyak 79,2% responden memberikan penilaian positif terhadap layanan transportasi publik Jakarta.
Capaian tersebut dikaitkan dengan integrasi sejumlah moda transportasi, mulai dari MRT Jakarta, LRT Jakarta, Transjakarta, Transjabodetabek, hingga Mikrotrans. Di kawasan Asia Tenggara, Jakarta menempati posisi kedua setelah Singapura dalam pemeringkatan tersebut. (ayb)


