BRIEF.ID – Mantan Wakil Presiden FIFA Pangeran Ali bin Al Hussein melontarkan kritik tajam terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino, dengan menuduh adanya praktik “pemerasan” yang dikaitkan dengan dukungan politik menjelang pemilihan presiden organisasi sepak bola dunia itu.
Melalui unggahan di media sosial, pada Selasa (4/8/2026), Pangeran Ali mengungkapkan bahwa saat Piala Dunia berlangsung, ketika Yordania untuk pertama kalinya tampil di putaran final, ia menerima pesan bahwa dukungannya pada Infantino akan “sangat membantu asosiasi sepak bola kami.”
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya tekanan atas kepemimpinan Infantino yang telah menjabat selama lebih dari satu dekade. Sejumlah tokoh sepak bola internasional belakangan mengkritik arah kepemimpinan FIFA, terutama setelah mencuatnya rencana penjualan sebagian hak atas keuntungan Piala Dunia kepada investor, yang dipimpin Joshua Kushner, sebuah proposal yang akhirnya batal terealisasi.
Pangeran Ali, yang juga menjabat Presiden Federasi Sepak Bola Yordania, mengaku asosiasinya hingga kini belum menerima hadiah uang yang menjadi hak mereka setelah tim nasional Yordania menjadi runner-up FIFA Arab Cup 2025 di Qatar.
Media Yordania melaporkan bahwa tim yang kalah di final turnamen tersebut berhak memperoleh hadiah sebesar US$ 4,2 juta. Namun, menurut Pangeran Ali, pembayaran itu belum juga diterima.
“Uang yang seharusnya diterima tim kami karena berhasil mencapai final belum juga dibayarkan, sementara di saat yang sama FIFA membanggakan cadangan dana mereka yang mencapai miliaran dolar,” tulisnya.
Ia menegaskan bahwa Federasi Sepak Bola Yordania tidak akan memberikan dukungan politik sebagai imbalan atas hak yang seharusnya diterima.
“Di Yordania, kami bangga menjunjung tinggi nilai-nilai etika. Kami tidak mendukungnya dulu dan tentu saja tidak akan mendukungnya sekarang. Keseluruhan situasi ini merupakan bentuk pemerasan dan kami menolak untuk tunduk pada hal itu,” ujar Pangeran Ali.
Pangeran Ali bukan sosok baru dalam persaingan politik FIFA. Putra ketiga mendiang Raja Hussein dari Yordania itu pernah mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA pada pemilihan 2016 dan finis di posisi ketiga ketika Gianni Infantino pertama kali terpilih memimpin organisasi tersebut.
Kontroversi terbaru ini semakin memperbesar tekanan terhadap Infantino menjelang pemilihan Presiden FIFA berikutnya. Sejumlah laporan menyebutkan para petinggi UEFA mulai menjajaki kemungkinan mengusung kandidat alternatif untuk menantang Infantino.
FIFA telah menetapkan batas akhir pendaftaran calon presiden pada 18 November 2026, sementara pemilihan akan digelar pada 18 Maret 2027 di Rabat, Maroko dan diikuti oleh 211 federasi anggota FIFA. FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan yang disampaikan Pangeran Ali. (AP/nov)


