BRIEF.ID – Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam beberapa dekade terakhir telah mengubah cara manusia berinteraksi. Jika dahulu komunikasi mengandalkan pertemuan tatap muka, kini media sosial memungkinkan orang dari berbagai belahan dunia saling terhubung secara instan tanpa dibatasi jarak maupun waktu.
Media sosial bahkan kerap dianggap mampu “mendekatkan yang jauh, sekaligus menjauhkan yang dekat”. Platform digital tidak lagi sekadar menjadi sarana berbagi informasi, melainkan telah berkembang menjadi ruang sosial baru tempat identitas, nilai, hingga realitas sosial dibangun, dinegosiasikan, dan diproduksi secara kolektif.
Kemudahan akses membuat media sosial dapat digunakan oleh hampir semua orang. Berbagai bentuk komunikasi, mulai dari teks, suara, hingga video, dapat dipertukarkan secara langsung (real time), sehingga menciptakan ruang interaksi yang jauh lebih fleksibel dibandingkan sebelumnya.
Perubahan tersebut tidak hanya mengubah cara masyarakat berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi bagaimana individu menampilkan identitas sosial dan budayanya di ruang digital. Nilai-nilai lokal kini bertemu dengan arus globalisasi dalam satu ekosistem yang dinamis, sehingga membuka peluang terjadinya pertukaran budaya yang lebih luas.
Berbagai penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa media sosial telah mengubah pola interaksi masyarakat. Salah satunya penelitian Nugroho (2021) yang menjelaskan bahwa pemanfaatan media digital mendorong pergeseran keterikatan emosional masyarakat dari interaksi fisik menuju komunikasi virtual. Pergeseran tersebut turut memengaruhi cara masyarakat memahami perbedaan sosial, membangun relasi, serta beradaptasi dengan keberagaman budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Transformasi media sosial juga menciptakan ruang pertemuan yang lebih terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang budaya. Penelitian Mardiana (2020) mengenai hubungan perkawinan lintas negara menemukan bahwa media baru mampu mendorong proses komunikasi lintas budaya yang lebih dinamis. Ruang publik virtual menjadi tempat berlangsungnya negosiasi identitas secara lebih aman sekaligus mempercepat proses saling memahami antarbudaya.
TikTok Menjadi Ruang Baru Pertemuan Lintas Budaya
Di antara berbagai platform media sosial yang berkembang saat ini, TikTok menjadi salah satu fenomena paling menonjol. Platform berbasis video pendek tersebut menawarkan pengalaman komunikasi audio-visual yang memungkinkan pengguna tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga memproduksi konten secara masif.
Berbeda dengan media sosial yang sebelumnya lebih mengandalkan teks atau foto, TikTok mengedepankan video singkat yang dipadukan dengan musik, efek visual, filter, serta berbagai fitur penyuntingan yang mudah digunakan. Karakteristik tersebut mendorong siapa pun untuk berkreasi tanpa memerlukan kemampuan produksi yang rumit.
Popularitas TikTok juga tercermin dari jumlah penggunanya. Berdasarkan data yang dikutip Rizaty (2024), jumlah pengguna TikTok secara global mencapai sekitar 1,67 miliar pada kuartal pertama 2024, atau menjangkau hampir seperlima populasi dunia.
Salah satu keunggulan utama TikTok terletak pada algoritma rekomendasinya melalui fitur For You Page (FYP). Berbeda dengan platform yang mengandalkan jaringan pertemanan, TikTok menyajikan konten berdasarkan minat dan perilaku pengguna (interest graph). Mekanisme ini memungkinkan sebuah video menjangkau audiens yang sangat luas, meskipun pembuatnya memiliki sedikit pengikut.
TikTok juga membangun budaya partisipatif melalui fitur seperti duet, stitch, hingga penggunaan audio yang sama antarpengguna. Dengan karakteristik tersebut, pengguna tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga didorong untuk berinteraksi, memodifikasi, dan menciptakan kembali konten yang beredar di platform.
Menurut Putri (2024), karakteristik media baru seperti TikTok membuat proses distribusi pesan menjadi lebih fleksibel dibandingkan media konvensional. Kombinasi video singkat, musik, serta pergerakan visual yang dinamis membuat pengguna bertahan lebih lama di dalam aplikasi sekaligus meningkatkan peluang sebuah konten menjangkau audiens yang lebih luas.
Sejumlah kajian di Indonesia juga menunjukkan bahwa TikTok berkembang menjadi ruang pembentukan identitas digital. Dalam telaah literatur yang dilakukan Syarifuddin (2025), platform ini dinilai memungkinkan pengguna menampilkan identitas diri sekaligus mengenal budaya dari berbagai belahan dunia. Ekspresi melalui video pendek tersebut turut memengaruhi cara masyarakat memandang keberagaman budaya di ruang digital.
Di Indonesia, TikTok pun telah berkembang melampaui fungsi awalnya sebagai media hiburan. Platform ini kini menjadi ruang pembelajaran informal yang menyajikan beragam informasi, mulai dari sains, psikologi, gaya hidup, hingga budaya masyarakat di berbagai negara. Konten yang memperlihatkan perbedaan kehidupan antara masyarakat Indonesia dan negara lain bahkan kerap memperoleh respons tinggi karena mampu memuaskan rasa ingin tahu pengguna terhadap budaya di luar lingkungan mereka. (fal)


