BRIEF.ID – Fenomena pertemuan berbagai latar belakang budaya kini semakin mudah ditemukan di media sosial, termasuk di TikTok. Salah satu contohnya adalah pasangan Fadhil Machmud, kreator konten asal Bekasi, Indonesia, dan Nadia, perempuan asal Polandia, yang rutin membagikan kehidupan sehari-hari mereka setelah menikah.
Melalui video-video pendek, pasangan beda negara tersebut memperlihatkan proses adaptasi yang mereka jalani dalam kehidupan rumah tangga. Mulai dari perbedaan kebiasaan, cara berkomunikasi, hingga gaya hidup menjadi bagian dari cerita yang mereka sajikan kepada publik.
Perbedaan budaya terlihat jelas dalam cara keduanya berinteraksi. Masyarakat Indonesia umumnya dikenal menggunakan gaya komunikasi yang lebih tidak langsung dan cenderung menjaga perasaan lawan bicara. Sebaliknya, masyarakat Polandia yang merepresentasikan karakteristik komunikasi di sebagian wilayah Eropa Tengah lebih terbuka dan lugas dalam menyampaikan pendapat.
Perbedaan nilai tersebut menjadi dinamika tersendiri ketika keduanya hidup dalam satu rumah tangga. Namun, alih-alih menjadi sumber konflik, pengalaman tersebut justru diolah menjadi konten yang menarik perhatian banyak pengguna TikTok.
Dalam sejumlah video, Nadia terlihat mencoba berbagai pengalaman baru di Indonesia, seperti mencicipi makanan di warung makan tradisional (warteg), beradaptasi dengan kebiasaan bertamu masyarakat Indonesia, hingga membandingkan biaya hidup di Bekasi dan Polandia. Pengalaman sehari-hari itu disampaikan secara apa adanya tanpa dramatisasi berlebihan, sehingga mudah diterima oleh audiens.
Interaksi Fadhil dan Nadia juga memperlihatkan proses negosiasi identitas yang terus berlangsung. Keduanya tidak berusaha menghilangkan identitas budaya masing-masing, melainkan membangun ruang kompromi agar perbedaan dapat berjalan berdampingan.
Dalam proses tersebut, Fadhil mulai memahami pola pikir yang lebih lugas dan terstruktur sebagaimana lazim ditemui di Eropa Tengah. Sebaliknya, Nadia perlahan beradaptasi dengan budaya Indonesia yang lebih mengedepankan kebersamaan, kehangatan, dan fleksibilitas dalam kehidupan sehari-hari.
Humor Menjadi Jembatan Perbedaan Budaya
Salah satu faktor yang membuat konten Fadhil dan Nadia mendapat respons positif dari pengguna media sosial adalah cara mereka menggunakan humor untuk menyikapi perbedaan budaya.
Ketika muncul kesalahpahaman akibat perbedaan bahasa maupun kebiasaan, keduanya memilih menanggapinya dengan candaan dan saling menjelaskan, bukan menjadikannya sebagai konflik. Pendekatan tersebut membuat perbedaan budaya tampil sebagai sesuatu yang menghibur sekaligus edukatif.
Penelitian mengenai komunikasi dalam perkawinan lintas negara juga menunjukkan bahwa toleransi aktif dan kemampuan mengelola komunikasi interpersonal secara inklusif menjadi fondasi penting dalam menjaga keharmonisan hubungan pasangan dari latar belakang budaya yang berbeda (Nurhadi dkk., 2019).
Karakter audiovisual TikTok turut memperkuat penyampaian pesan tersebut. Ekspresi wajah, intonasi, hingga bahasa tubuh menjadi bagian penting yang membantu penonton memahami situasi yang terjadi. Misalnya ketika Nadia tampak tersenyum kebingungan saat mencoba menirukan logat Bekasi atau mempelajari istilah-istilah bahasa Indonesia yang belum dikenalnya.
Sebagai pasangan suami istri, Fadhil dan Nadia juga memiliki ruang yang lebih leluasa untuk menampilkan keseharian mereka di dalam rumah. Berbagai momen sederhana, seperti saling mengerjai atau bercanda, justru menjadi hiburan yang dinilai autentik oleh para pengikut mereka.
Fenomena tersebut sejalan dengan Teori Akomodasi Komunikasi yang menjelaskan bahwa seseorang cenderung menyesuaikan gaya berbicara maupun perilaku nonverbal agar lebih selaras dengan lawan bicaranya. Upaya Nadia mempelajari bahasa gaul Indonesia atau memahami humor lokal merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan sosial suaminya. Sebaliknya, Fadhil juga melakukan penyesuaian ketika berinteraksi dengan keluarga Nadia saat berada di Polandia. (fal)


