BRIEF.ID – Sutradara film horor legendaris John Carpenter kembali menghadirkan karya terbaru bertajuk Cathedral, sebuah proyek yang memadukan novel grafis bergenre horror dan album musik orisinal sebagai pendamping cerita.
Chatedral resmi dirilis pada Jumat (6/8/2026) dan menjadi salah satu proyek paling personal dalam perjalanan karier sineas berusia 78 tahun itu.
Selama kariernya, Carpenter dikenal kerap bekerja sama dengan orang-orang terdekat. Namun, Cathedral menjadi proyek keluarga yang melibatkan putranya, Cody Carpenter, anak baptisnya Daniel Davies, serta istrinya, Sandy King.
Carpenter menilai industri perfilman saat ini semakin didominasi oleh korporasi besar sehingga ruang bagi kreativitas independen menjadi lebih terbatas. Ia memilih medium yang lebih sederhana dan tidak membutuhkan biaya produksi besar untuk tetap menyalurkan ide-idenya.
Inspirasi Cathedral bermula dari mimpi Carpenter tentang sebuah gereja terbengkalai di pusat Kota Los Angeles, Amerika Serikat (AS) yang memiliki lift menuju neraka. Dari mimpi tersebut lahirlah konsep cerita yang kemudian dikembangkan menjadi novel grafis.
Sebagai komposer, Carpenter juga menggandeng Cody Carpenter dan Daniel Davies untuk menciptakan album musik inustrumental yang menyertai novel grafis it. Album tersebut juga menghadirkan nuansa mencekam yang mengingatkan pada komposisi-komposisi ikonik Carpenter, termasuk musik tema film Halloween.
Sementara itu, Sandy King berperan mengembangkan aspek visual dan penerbitan novel grafis, sehingga proyek tersebut menjadi kolaborasi kreatif seluruh anggota keluarga.
Di kutip dariThe Associated Press, Jumat (7/8/2026) Carpenter bersama Cody Carpenter dan Daniel Davies juga berbagi cerita mengenai proses kreatif di balik Cathedral, pandangan mereka pada perkembangan kecerdasan buatan (AI), hingga pengalaman Carpenter bermimpi buruk tentang legenda NBA Larry Bird, yang menjadi salah satu kisah unik di balik proyek itu.
“Saya berpikir, mengingat latar belakang saya sebagai sutradara film, musik dalam album ini akan menjadi soundtrack yang sempurna untuk sebuah film. Namun, membuat film seperti itu membutuhkan biaya ratusan juta dolar. Karena itu, saya memilih membuat novel grafis. Istri saya memiliki perusahaan penerbit komik, sehingga kami bisa menulis dan mengilustrasikan ceritanya, lalu menciptakan musik yang menjadi pengiringnya,” kata John Carpenter. (nov)


