BRIEF.ID – Polusi mikroplastik di lautan kini menjadi salah satu tantangan lingkungan terbesar di dunia. Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang berasal dari pecahan sampah plastik, serat pakaian sintetis, ban kendaraan, hingga produk kosmetik tertentu. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini sulit terlihat oleh mata dan dapat masuk ke rantai makanan laut.
Partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter telah ditemukan di hampir seluruh samudera, dari permukaan laut hingga dasar laut terdalam. Untuk memahami tingkat pencemaran dan dampaknya terhadap ekosistem, para ilmuwan mengembangkan berbagai teknologi pendeteksian yang semakin akurat.
“Lautan tercemar oleh serpihan plastik kecil yang sulit dideteksi tetapi dapat membahayakan ekosistem laut,” demikian dikutip dari Euronews.com, Kamis (23/7/2026).
Penelitian yang dilakukan diawali pengambilan sampel air laut menggunakan jaring khusus atau pompa dari berbagai kedalaman. Selain air, ilmuwan juga mengumpulkan sedimen dasar laut, pasir pantai, serta organisme seperti ikan, kerang, dan plankton untuk mengetahui sejauh mana mikroplastik telah masuk ke dalam rantai makanan.
Di laboratorium, sampel diproses melalui penyaringan dan pemisahan menggunakan larutan berkepadatan tinggi agar partikel plastik dapat dipisahkan dari material organik.
Selanjutnya, partikel diamati dengan mikroskop untuk mengidentifikasi bentuknya, seperti serat tekstil, fragmen plastik, film, atau butiran mikroplastik.
Untuk memastikan jenis materialnya, peneliti memanfaatkan teknologi Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan Raman Spectroscopy, yang mampu mengidentifikasi komposisi kimia setiap partikel. Pada penelitian yang lebih mendalam, metode Pyrolysis-Gas Chromatography/Mass Spectrometry (Py-GC/MS) digunakan untuk menentukan jenis polimer dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Kemajuan teknologi digital turut mempercepat penelitian. Sejumlah laboratorium kini menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mengenali dan mengklasifikasikan ribuan partikel mikroplastik secara otomatis dari citra mikroskop. Pendekatan ini meningkatkan kecepatan analisis sekaligus mengurangi potensi kesalahan identifikasi.
Data hasil pengamatan kemudian dipadukan dengan model arus laut dan informasi oseanografi untuk memetakan jalur penyebaran mikroplastik. Pemetaan tersebut membantu mengidentifikasi wilayah dengan tingkat pencemaran tinggi, termasuk kawasan pesisir padat penduduk, muara sungai besar, serta pusaran samudra yang menjadi tempat akumulasi sampah plastik.
Meski demikian, para ilmuwan masih menghadapi tantangan dalam mendeteksi nanoplastik, yaitu partikel yang berukuran kurang dari satu mikrometer. Ukurannya yang sangat kecil membuat nanoplastik lebih sulit diidentifikasi, padahal diduga memiliki potensi dampak lebih besar terhadap kesehatan organisme laut dan manusia.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik telah ditemukan pada ratusan spesies biota laut, termasuk ikan konsumsi, kerang, penyu, burung laut, hingga mamalia laut.
Temuan tersebut mendorong pemerintah, lembaga riset, dan organisasi internasional untuk memperkuat upaya pengurangan sampah plastik, meningkatkan sistem pengelolaan limbah, serta memperluas program pemantauan kualitas lingkungan laut. (nov)


