BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (18/5/2026) diprediksi rawan terkoreksi. IHSG masih bergerak pada resistance di level 6.800, pivot 6.700, dan support 6.500.
Adapun saham-saham yang diunggulkan pada perdagangan di sepanjang pekan ini adalah CPIN, PGEO, JPFA, BTPS, SUPA, dan BULL.
“Diperkirakan jika IHSG breakdown level 6.700, berpotensi menguji level 6.500-6.550 pada pekan ini,” demikian hasil riset Phintraco Sekuritas, yang dirilis Senin (18/5/2026).
Sebelumnya, indeks di Bursa Wall Street, New York ditutup melemah pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Pelemahan indeks dipicu oleh aksi profit taking pada saham-saham sektor teknologi serta kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.
Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berakhir tanpa adanya kesepakatan besar, sehingga membuat investor kecewa. Imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami peningkatan, dengan tenor 30 tahun mencapai 5,1%, di tengah kekhawatiran atas inflasi dan kenaikan suku bunga akibat kenaikan harga minyak mentah.
Harga minyak mentah menguat di atas 3% akibat belum tercapainya kesepakatan damai antara AS-Iran, pada Jumat (15/5/2026).
Konflik AS-Iran masih akan berpengaruh terhadap pergerakan indeks di bursa global, pada pekan ini, di tengah naik turunnya eskalasi kedua negara itu.
Dari AS dilaporkan, investor akan mencermati laporan keuangan Nvidia serta FOMC minutes. Investor mencari indikasi arah suku bunga setelah data inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan.
Dari Tiongkok diberitakan bahwa investor akan mencermati sejumlah data ekonomi, seperti industrial production dan retail sales. Bank Sentral Tiongkok diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pinjaman utama 1 tahun dan 5 tahun masing-masing tetap di level 3% dan 3,5%.
Di dalam negeri, investor mencermati secara saksama Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diperkirakan akan mempertahankan BI Rate di level 4,75%, pada Rabu (20/5/2026). Selain itu, Bank Indonesia juga akan merilis pertumbuhan kredit, transaksi berjalan Kuartal I-2026, dan M2 Money Supply.
Sementara itu, FTSE Russell menyatakan telah meninjau perkembangan di pasar modal Indonesia, namun masih menunda pemeringkatan ulang indeks secara penuh, kenaikan free float dan penambahan saham baru (IPO) hingga review September 2026. (nov)


