Harga Bitcoin US$ 63.000, Ketidakpastian Regulasi Bayangi Pasar Kripto

JAKARTA – Harga Bitcoin bertahan di kisaran US$63.000 pada perdagangan Sabtu (15/8/2026), dengan pergerakan yang relatif terbatas dalam 24 jam terakhir. Tekanan jual dari perusahaan pemegang Bitcoin, ketidakpastian regulasi di Amerika Serikat (AS), serta melemahnya indikator teknikal membatasi penguatan aset kripto tersebut.

Bitcoin, mata uang kripto terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar, tercatat naik 0,2% menjadi US$ 63.092,8 pada Sabtu (15/8/2026) pukul  19.31 GMT atau Minggu (16/8/2026) pukul 01.31 WIB.

Pergerakan Bitcoin yang cenderung datar terjadi ketika pasar saham AS mencetak rekor tertinggi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan yang terjadi saat ini lebih bersifat spesifik terhadap pasar kripto dibandingkan aksi jual secara luas pada aset berisiko.

Tekanan terhadap Bitcoin juga datang dari aksi jual perusahaan. MicroStrategy, salah satu pemegang Bitcoin korporasi terbesar, dilaporkan menjual sekitar 1.690 Bitcoin dengan nilai sekitar US$108,6 juta.

Transaksi ini menambah pasokan Bitcoin di pasar ketika aset kripto tersebut masih berupaya membangun kembali momentum kenaikan.

Sentimen pasar turut tertekan setelah Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) menunda rencana pengecualian inovasi bagi proyek tokenisasi. Penundaan ini memperpanjang ketidakpastian mengenai waktu dan mekanisme bagi produk keuangan berbasis blockchain untuk memperoleh keringanan regulasi.

Dari sisi teknikal, pelaku pasar mencermati level US$63.220 sebagai salah satu titik penting dalam perdagangan Bitcoin. Penutupan harga di bawah level tersebut berpotensi mengubah area support sebelumnya menjadi resistance dan meningkatkan risiko penurunan lebih lanjut.

Investor selanjutnya akan mencermati data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada 26 Agustus 2026. Data ini menjadi perhatian karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga Federal Reserve dan selera risiko investor.

Meski tekanan jangka pendek masih membayangi, prospek adopsi Bitcoin dalam jangka panjang tetap mendapat dukungan.

Grayscale menilai tingginya defisit dan utang pemerintah, meningkatnya penggunaan teknologi blockchain, serta perubahan preferensi portofolio investor muda berpotensi mendorong adopsi Bitcoin lebih luas.

Manajer aset itu juga menyoroti pertumbuhan sekuritas yang ditokenisasi, stablecoin, dan produk investasi kripto yang semakin teregulasi sebagai faktor yang dapat memperkuat hubungan antara aset digital dan sistem keuangan tradisional.

Dengan demikian, pergerakan Bitcoin dalam waktu dekat masih akan sangat dipengaruhi kombinasi tekanan jual, perkembangan regulasi AS, serta ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve. Sementara itu, perkembangan adopsi dan integrasi blockchain dengan sistem keuangan tradisional menjadi faktor pendukung bagi prospek Bitcoin dalam jangka panjang. (Investing.com/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Rumah Sakit di Madrid Ciptakan Prostesis Tulang Metamaterial, Cegah Amputasi Kaki

BRIEF.ID – Rumah Sakit Gregorio Marañón di Madrid, Spanyol,...

Jimin BTS Tempati Posisi Teratas Peringkat Reputasi Merek Anggota Boy Group Agustus 2026

BRIEF.ID – Korean Business Research Institute kembali merilis peringkat...

Gempa M 6,4 Guncang Simalungun, Dirasakan hingga Medan

BRIEF.ID – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6,4 mengguncang...

Gempa M 7,7 Guncang NTT, 47 Orang Meninggal dan Ratusan Rumah Rusak

BRIEF.ID - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang...