BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Kamsi (1/10/2026), meski ada sentimen positif neraca perdagangan Indonesia, yang mengalami surplus.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah terpantau masih bergerak di zona merah sepanjang perdagangan hari ini.
Pada awal perdagangan, nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,12% atau 21 poin menjadi Rp17.915 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.894 per dolar AS.
Hingga pukul 14:20 WIB, kurs rupiah terpantau berada di level Rp17.970 per dolar AS, melemah 0,42% atau 76 poin dibandingkan Rp17.894 pada penutupan perdagangan Rabu (30/9/2026).
Pelemahan rupiah dipicu tekanan eksternal, yakni kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury, yang memicu arus modal keluar (capital outflow) dari emerging market termasuk Indonesia.
Yield US Treasury tenor 10 tahun kembali naik 6 basis poin (bps) di level 5,3% seiring makin meningkatnya ekspetasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Kenaikan US Treasury itu diikuti dengan kenaikan yield obligasi pemerintah Jepang sebesar 5,2 bps ke 3,08%, lalu Australia 6,5 bps ke 5,41%, dan Selandia Baru naik 6,1 bps jadi 5,08%.
Selain itu, pelemahan rupiah dipicu kenaikan inflasi Indonesia menjadi 3,28% per September 2026 secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Badan Pusat Statistik (BPS) dalam pernyataan resmi hari ini, menyampaikan kenaikan nflasi pada September 2026 (yoy) dipicu lonjakan harga komoditas pangan.
“Terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK), dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September 2026,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono.
Sepanjang tahun ini atau year-to-date (ytd) inflasi Indonesia tercatat sebesar 2,17%, dan inflasi secara bulanan atau month-to-month (mtm) sebesar 0,30%.
Ateng menyampaikan, kenaikan inflasi dipicu lonjakan harga komoditas pangan, terutama cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, ikan segar, dan kangkung.
Tren inflasi tinggi secara global, membuat investor memilih mengamankan modal ke aset berdenominasi dolar AS, sehingga menjadi sentimen negatof bagi rupiah.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi bergerak melemah terbatas di kisaran level Rp17.900 per dolar AS hingga Tp17.980 per dolart AS. (Jea)


