BRIEF.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan Indonesia mencetak surplus neraca perdagangan sebesar US$3,55 miliar per Agustus 2026.
Surplus neraca perdagangan tersebut naik signifikan dibandingkan US$0,12 miliar pada Juli 2026, sekaligus menandai kenaikan selama dua bulan berturut-turut setelah terjadi defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 sebesar US$450 juta.
“Pada Agustus 2026, Neraca Dagang Indonesia mengalami surplus sebesar US$3,55 miliar, dengan ekspor yang naik sebesar 6,72% menjadi US$26,61 miliar, dan impor yang naik sebesar 19,09% menjadi US$23,06 miliar secara tahunan atau year-on-year (yoy),” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Sepanjang tahun ini, yakni periode Januari-Agustus 2026, Neraca Perdagangan Indonesia mengalami surplus senilai US$7,25 miliar. Dari angka tersebut, ekspor kumulatif tercatat mencapai US$193,64 miliar atau naik 4,74% dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar US$184,89 miliar.
Ateng mengungkapkan, surplus neraca perdagangan terutama ditopang oleh ekspor non-migas yang naik 5,48% menjadi US$185,63 miliar sepanjang tahun ini.
Menurut dia, penyumbang utama surplus ekspor nonmigas adalah komoditas unggulan, seperti lemak dan minyak hewani/nabati, dan alas alas kaki.
Adapun surplus perdagangan nonmigas dari lemak dan minyak hewani/nabati mencapai US$24,91 miliar, bahan bakar mineral US$18,84 miliar, besi dan baja US$12,10 miliar, nikel dan barang daripadanya US$8,38 miliar, serta alas kaki US$4,33 miliar.
“Surplus sepanjang periode Januari-Agustus 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus US$28,54 miliar, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar US$21,29 miliar,” ungkap Ateng.
Industri Pengolahan
Berdasarkan sektor, lanjut Ateng, industri pengolahan masih menjadi menyumbang utama dari total ekspor, disusul sektor pertambangan dan turunannya, serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.
“Industri pengolahan menyumbang US$159,55 miliar dari total ekspor kumulatif, disusul sektor pertambangan dan lainnya US$22,39 miliar, serta sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar US$3,09 miliar,” ungkap Ateng.
BPS mencatat impor sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai US$186,39 miliar, meningkat 19,84% secara tahunan (yoy), dengan andil penggunaan didominasi oleh bahan baku/penolong sebesar US$133,38 miliar, diikuti barang modal US$36,75 miliar, dan barang konsumsi US$16,27 miliar.
Tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia adalah Tiongkok atau China sebesar US$47,44 miliar atau 25,55% dari total ekspor, Amerika Serikat US$22,41 miliar (12,07%), dan India US$12,77 miliar (6,88%).
Di sisi lain, nilai impor kumulatif Januari-Agustus 2026 mencapai US$186,39 miliar, naik 19,84% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Hal itu, berasal dari peningkatan impor nonmigas sebesar 16,83% menjadi US$157,09 miliar, dan impor migas sebesar 39,03% menjadi US$29,30 miliar.
Ateng menyamaikan, berdasarkan penggunaan, impor bahan baku/penolong menjadi komponen terbesar dengan nilai US$133,38 miliar atau naik 20,67%. Impor barang modal mencapai US$36,75 miliar atau meningkat 18,82%, sedangkan barang konsumsi tercatat US$16,27 miliar atau naik 15,48%.
“Tiongkok masih menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026, dengan nilai mencapai US$66,64 miliar atau 42,42% secara kumulatif, diikuti Jepang US$8,88 miliar atau 5,65%, dan Australia US$7,31 miliar atau 4,65%,” tutur Ateng. (Jea)


