BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (23/6/2026) diperkirakan masih melanjutkan konsolidasi karena investor masih menunggu pengumuman MSCI dan S&P Global Standard.
Riset Phintraco Sekuritas menyebutkan, apabila IHSG ditutup di atas level 6.100, diperkirakan konsolidasi IHSG berlanjut di kisaran 6.050-6.220, jika tidak maka berpeluang uji level 6.000. Saham-saham yang diunggulkan adalah ITMG, NCKL, AKRA, JSMR, dan ADRO.
Sebelumnya, IHSG ditutup melemah 0,98% di level 6.116,69 pada perdagangan Senin (22/6/2026). Harga minyak Brent melemah lebih dari 3% di bawah level US$ 80 per barel dan harga emas spot menguat 0,6% di level US$ 4.183 per troy ons.
Sektor basic materials mencatatkan koreksi terbesar 2,49%, sedangkan sektor energi membukukan kenaikan terbesar 1,47%. Investor cenderung menunggu, menjelang pengumuman MSCI mengenai Annual Market Classification Review, pada 24 Juni 2026, untuk memastikan apakah Indonesia masih di kelas Emerging Market.
“Investor juga menantikan hasil review S&P Global Standards terhadap peringkat Indonesia,” demikian riset Phintraco Sekuritas.
Secara teknikal, IHSG ditutup di bawah MA5, namun masih di atas level MA10 dan MA20. Histogram MACD masih berada di area positif, namun Stochastic RSI melanjutkan pembalikan arah ke area pivot.
Beberapa ketentuan dalam UU No. 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas UU no.4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) menimbulkan ketidakpastian bagi investor.
Bank Indonesia (BI) wajib memperoleh persetujuan DPR dalam menetapkan anggaran tahunannya, yang mencakup dua komponen utama, yaitu anggaran kegiatan operasional serta anggaran yang digunakan untuk pelaksanaan kebijakan moneter, sistem pembayaran dan kebijakan makroprudensial.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran investor akan masalah independensi bank Indonesia sebagai bank sentral. (nov)


