BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah babak belur, pada penutupan perdagangan Kamis (4/6/2026).
IHSG ditutup melemah 101,28 poin atau 1,7% di level 5.839,78 dan Rupiah terjungkal sehingga menyentuh level paling rendah di angka Rp 18.020 per Dolar AS setelah melemah 0,45%. Penurunan berjamaah ini terjadi akibat minimnya kepercayaan investor serta ketidakpastian.
Hal ini menjadi tantangan terbesar Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah dituntut segera memulihkan kepercayaan investor, di antaranya melalui peningkatan transparansi, kepastian regulasi, dan penguatan tata kelola pasar keuangan
Pada hari ini, aksi jual terjadi hampir sepanjang perdagangan dan menyeret indeks ke level terendah. Dari seluruh saham yang diperdagangkan membukukan total transaksi Rp 25,33 triliun dengan volume perdagangan sebesar 39,31 miliar saham.
Sebanyak 191 saham mengalami kenaikan, 875 saham turun, dan 247 saham stagnan. Saham-saham LQ45 top losers adalah WIFI, CPIN, dan BRPT.
Menurunnya kepercayaan membuat kalangan pelaku pasar lebih berhati-hati atau pesimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia, pasar keuangan, dan kinerja perusahaan. Investor cenderung mengurangi investasi, menahan pembelian aset, dan bahkan menjual investasi yang dimiliki.
Beberapa faktor yang menyebabkan kepercayaan investor terhadap Indonesia menurun, di antaranya kekhawatiran pada konsistensi kebijakan serta pengesahan undang-undang yang memperluas peran Bank Indonesia (BI), yang memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan intervensi politik terhadap kebijakan moneter.
Selain itu, pada awal 2026, penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyoroti sejumlah isu terkait transparansi, free float saham, dan konsentrasi kepemilikan emiten di Indonesia. Kekhawatiran ini memicu aksi jual investor asing dan tekanan pada IHSG.
Pasar merespons berbagai ketidakpastian ini dengan penurunan tajam IHSG dari rekor tertingginya pada Januari 2026. Di sisi lain, nilai tukar Rupiah juga mengalami pelemahan signifikan terhadap Dolar AS sehingga makin memperkuat sentimen negatif investor. Rupiah ditutup melemah 0,45% di level Rp 18.020 per Dolar AS.
Tekanan pada IHSG dan Rupiah yang berkepanjangan, berujung pada biaya pendanaan perusahaan meningkat serta arus masuk investasi asing langsung (FDI) berpotensi melambat sehingga pertumbuhan ekonomi nasional menghadapi tantangan yang lebih besar.
Meski demikian, Indonesia dinilai masih memiliki sejumlah kekuatan fundamental, seperti ukuran pasar domestik yang besar, sumber daya alam melimpah, dan status sebagai ekonomi G20. (nov)


