BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih memiliki peluang melanjutkan penguatan pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (6/8/2026), dengan target menguji area 6.300–6.400 seiring membaiknya sentimen domestik.
Penguatan indeks ditopang oleh data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 yang mencapai 5,29% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 5,1%.
Riset Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak pada area support 6.300, pivot 6.350, dan resistance 6.400. Adapun saham yang direkomendasikan untuk dicermati meliputi ANTM, BRMS, BUMI, KLBF, ENRG, dan PSAB.
Pada perdagangan Rabu (5/8/2026), IHSG ditutup menguat 0,50% ke level 6.351,14. Kenaikan tersebut didorong oleh kombinasi sentimen positif, antara lain membaiknya sejumlah indikator ekonomi domestik, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta meningkatnya optimisme investor terhadap kinerja emiten.
Sentimen tambahan datang dari keputusan pemerintah menunda implementasi pemungutan pajak melalui marketplace yang sebelumnya direncanakan berlaku efektif pada Agustus 2026. Secara teknikal, sejumlah indikator juga menunjukkan peluang penguatan IHSG berlanjut dengan target pengujian di kisaran 6.370–6.400.
Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 melambat dari 5,61% pada kuartal I-2026 menjadi 5,29%, realisasi tersebut tetap melampaui proyeksi pasar. Capaian itu juga menjadi laju pertumbuhan tahunan terendah sejak kuartal III-2025.
Perlambatan terutama dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga menjadi 5,06% dari 5,52% pada kuartal sebelumnya, serta perlambatan belanja pemerintah menjadi 15,97% dari 21,81%.
Di sisi lain, investasi menunjukkan akselerasi dengan pertumbuhan 6,87% dibandingkan 5,96% pada kuartal sebelumnya. Sementara itu, impor tumbuh 8,82%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor sebesar 4,13%.
Indikator ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat juga menunjukkan perbaikan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,65% pada Mei 2026 dari 4,68% pada Februari 2026, sekaligus menjadi level terendah sejak 1994 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Selain itu, tingkat kemiskinan turun menjadi 8,07% pada Maret 2026 dari 8,25% pada September 2025, merupakan level terendah sejak 1999. Jumlah penduduk miskin juga berkurang sekitar 430 ribu orang menjadi 22,93 juta jiwa dari sebelumnya 23,36 juta jiwa pada September 2025. (nov)


