BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak variatif (sideways) pada perdagangan hari ini, Rabu (21/10/2026), seiring investor menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI).
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka menguat 0,61% atau 31,96 poin ke level 5.310. Tak lama berselang, IHSG berbalik arah ke zona merah, dengan melemah 0,47% ke level 5.303.
Hingga pukul 11:40 waktu JATS, IHSG terpantau masih bergerak di zona merah dengan melemah 1,69% atau 86,72 poin ke level 5.190. Sepanjang perdagangan IHSG sempat menyentuh level terendah di 5.185, dan level tertinggi di 5.326.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 530 saham turun harga, 158 saham naik harga, dan 98 saham tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Saham-saham berkapitalisasi besar yang semula mendongkrak IHSG, kembali mengalami tekanan jual terutama 4 bank besar, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Harga BBCA turun 0,96% atau Rp50 menjadi Rp5.150 per lembar, BMRI terkoreksi 2,17% atau Rp70 menjadi Rp3.620 per lembar, BBRI melemah 1,79% atau Rp50 menjadi Rp2.740 per lembar, dan BBNI anjlok 3,11% atau Rp100 menjadi Rp3.120 per lembar.
Pergerakan IHSG yang variatif dipengaruhi faktor eksternal, yakni lonjakan harga minyak dunia, seiring ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka 0,78% menjadi US$ 109,64 per barel pada pukul 00.22 GMT. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) naik 0,78% menjadi US$ 98,58 per barel.
Tingginya harga minyak dunia membuat kekhawatiran terkait tekanan biaya energi untuk inflasi semakin meningkat. Hal itu, akan mendorong lonjakan inflasi global, yang mendesak bank sentral di berbagai negara menaikkan suku bunga acuan.
Dengan demikian, penguatan IHSG hari ini lebih dipengaruuhi faktor domestik, yakni hasil RDG BI, yang antara lain akan memutuskan posisi suku bunga acuan atau BI-Rate.
Konsensus pasar memperkirakan RDG BI yang selesai hari ini, kemungkinan menaikkan suku bunga acuan ke 6.00%, karena lonjakan harga minyak dunia. Namun ada peluang BI tetap mempertahankan BI-Rate di kisaran 5,57%, dengan mendorong kebijakan moneter lainnya.
Selain itu, pelemahan IHSG juga masih dipengaruhi aksi lepas saham yang dilancarkan investor asing, sejak pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengusulkan pasar modal Indonesia turun kelas dari emerging market ke standalone market.
Sejak 16 Oktober, investor asing terus melakukan tekanan jual. Pada perdagangan Selasa (20/10/2026), nilai jual bersih investor asing atau foreign net sell terpantau lebih dari Rp2 triliun.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan bergerak sideways dengan kecenderungan menguat terbatas di kisaran level support 5.180 hingga level resistance di 5.320. (Jea)


