BRIEF.ID – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI dengan cara pengadaan kapal perang, jet tempur, pesawat angkut, helikopter, hingga kendaraan tempur amfibi.
Prabowo menegaskan kekuatan militer diperlukan bukan hanya untuk menjaga kedaulatan, tetapi juga membantu masyarakat menghadapi bencana dan berbagai situasi darurat.
Penguatan alutsista itu menjadi bagian dari agenda dua tahun pemerintahan Prabowo. “TNI adalah alat negara yang sangat besar peranannya dalam menghadapi bencana, menghadapi kesulitan, menghadapi masalah-masalah kepentingan masyarakat. Jadi saya kira ini akan menambah kemampuan kita,” tutur Prabowo dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (20/10).
Menurut Prabowo, karakter geografis Indonesia yang luas dan terdiri atas ribuan pulau membuat penguatan kemampuan udara menjadi kebutuhan strategis.
“Dan yang sangat penting, semua TNI sekarang kita bangun untuk menjadi lebih efektif, tidak hanya menjaga wilayah, tapi juga mengamankan dan mendukung pembangunan nasional,” katanya.
Di matra laut, TNI Angkatan Laut diperkuat dua fregat buatan Italia, KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321. Kedua kapal produksi Fincantieri tersebut ditempatkan untuk memperkuat Koarmada II di Surabaya. Selain itu, TNI AL juga menerima kapal cepat rudal KRI Belati yang diproduksi di dalam negeri untuk mendukung kegiatan patroli dan operasi tempur.
Indonesia juga disebut telah menerima KRI Sriwijaya-100 pada 24 September 2026. Kapal eks Angkatan Laut Italia yang diperoleh melalui hibah itu memiliki panjang 180,2 meter dan dek penerbangan untuk mendukung pengoperasian helikopter serta pesawat nirawak.
Kapal tersebut diklaim mampu mencapai kecepatan hingga sekitar 30 knot. Status operasional dan kebutuhan penyesuaian kapal tetap menjadi aspek penting untuk menilai kontribusinya terhadap kekuatan armada nasional.
Pada matra udara, TNI Angkatan Udara telah menerima dua pesawat angkut Airbus A400M Atlas, masing-masing pada November 2025 dan Maret 2026. Pesawat ini mampu membawa hingga 116 personel bersenjata lengkap, kendaraan, serta perlengkapan militer berukuran besar. Kemampuan angkutnya juga dapat dimanfaatkan untuk distribusi bantuan dan logistik ke wilayah terdampak bencana.
Sementara itu, jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation, Prancis, mulai tiba di Indonesia pada 2026. Dari total 42 unit yang dipesan, enam pesawat dilaporkan telah berada di Indonesia dan ditempatkan di Skadron Udara 12, Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau. Pesawat itu memiliki kecepatan maksimum Mach 1,8 dan kapasitas membawa persenjataan hingga 9.500 kilogram.
Kehadiran Rafale diharapkan meningkatkan kemampuan pengawasan dan pertahanan ruang udara nasional. Selain pesawat tempur dan angkut, Indonesia juga menerima empat unit jet Dassault Falcon 8X berkapasitas 13–16 penumpang dengan jangkauan terbang hingga 11.945 kilometer.
Pemerintah turut mendatangkan delapan helikopter H225M Caracal dan dua helikopter H225T VVIP untuk mendukung kebutuhan angkut taktis militer serta mobilitas pejabat.
Di lingkungan TNI Angkatan Darat, dua helikopter Mi-35M buatan Rusia diterima pada pertengahan tahun 2026 dan mulai beroperasi di Pusat Penerbangan Angkatan Darat, Semarang, pada awal September.
Meski memiliki kemampuan tempur, helikopter tersebut direncanakan lebih banyak mendukung pengiriman logistik ke wilayah Papua yang memiliki tantangan geografis. Pemanfaatan untuk misi non-tempur diharapkan memperluas kontribusi aset militer bagi kebutuhan masyarakat.
Adapun Korps Marinir TNI AL menerima 12 kendaraan tempur amfibi AAV-M35 buatan Amerika Serikat pada September 2026. Kendaraan tersebut mampu mengangkut 24 personel serta bergerak di darat dan air.
Melalui mesin berkekuatan 525 horsepower, kendaraan ini diklaim mampu melaju hingga 75 kilometer per jam di darat dan 15 kilometer per jam di air, serta dilengkapi senapan mesin kaliber 12,7 milimeter dan pelontar granat otomatis 40 milimeter.
Rangkaian pengadaan itu memperlihatkan upaya pemerintah memperkuat kemampuan TNI di berbagai matra. (ayb)


