BRIEF.ID – Mantan Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Muhammad Lutfi, angkat bicara soal ancaman Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menurunkan kelas indeks Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market.
Menurut dia, ada tekanan Singapura dibalik pengumuman MSCI yang mendadak dikeluarkan pada 15 Oktober 2026, sebelum batas waktu pengumuman hasil evaluasi terhadap reformasi pasar modal Indonesia, yang dijadwalkan pada November 2026.
Dalam video singkat yang diunggah di akun Instagram, @m.lutfi, Mendag RI periode 2020-2022 ini, menyampaikan ada serangan Singapura ke Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan memanfaatkan MSCI.
“Di saat Singapura sibuk menggurui kita, karena asap Karhutla (kebakaran hutan dan lahan), permainan mereka ternyata tidak berhenti di sawit. Lihat apa yang baru saja menyerang lantai bursa saham kita minggu ini,” kata Lutfi, dalam unggahan di Instagram, Senin (19/10/2026).
Menurut dia, pengumuman MSCI yang tiba-tiba mengusulkan akan menurunkan kasta pasar modal Indonesia dari emerging market ke kasta terendah, yaitu standalone market, sama sekali tidak berdasar.
Pasalnya, Self Regulatory Body (SRO) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang melakukan reformasi pasar modal sesuai permintaan MSCI, yang memutuskan membekukan indeks saham Indonesia dari MSCI Standard Global Index, dan mempertimbangkan menurunkan klasifikasi dari emerging market ke frontier market pada 27 Januari 2026.
Setelah melakukan evaluasi, pada Juni 2026, MSCI mengumumkan tetap mempertahankan kelas pasar modal Indonesia di emerging market, namun menunggu lanjutan proses reformasi pasar modal, dan memberi waktu sampai November 2026.
Meski demikian, secara mendadak pada 15 Oktober 2026, MSCI mengusulkan akan menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, yang merupakan kasta terbawah.
“Ingat ya, saya bicara di sini bukan untuk membela pemerintah, tapi untuk membela negara saya sendiri. Anda tahu apa syarat sebuah negara dimasukkan ke Standalone Market? Itu kasta untuk negara yang menerapkan capital control,” ungkap Lutfi.
Dia menjelaskan, capital control berarti suatu negara yang tidak punya nilai tukar bebas di mana pemerintahnya mematok kurs resmi di atas kertas, tapi di jalanan berlaku kurs pasar gelap, karena orang dilarang jual beli mata uang asing.
“Apakah Indonesia menerapkan capital control? Sama sekali tidak. Lalu, kenapa MSCI ngotot mengusulkan pasar modal Indonesia turun kelas ke Standalone Market?” tanya Lurfi.
Dia mengungkapkan, Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang memiliki pengaruh besar di MSCI, ternyata menekan lembaga tersebut untuk menurunkan peringkat Indonesia.
Lutfi menyampaikan, dia bahkan mendapat info A1 dari sumber di dalam MSCI bahwa Country Director GIC, Rachel Khoo, menekan MSCI supaya menurunkan peringkat Indonesia.
“Singapura begitu ngotot menekan Indonesia, bahkan saya dapat kabar langsung dari dalam bahwa Rachel Khoo dari GIC marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan. Come on Rachel, don’t you know walls in Jakarta. Do Talk and scream,” tutur Lutfi.
Licik
Tekanan dari Temasek dan GIC ke MSCI didasarkan pada alasan kurang transparannya segelintir emiten konglomerat. Meski demikian, Lutfi menyebut motif sebenarnya dibalik layar jauh lebih licik.
Dia memaparkan, dana-dana institusi asing sudah keluar dari Pasar Keuangan Indonesia sekitar 80% sepanjang tahun ini. Masalahnya, performa BEI tidak hancur bahkan kembali bangkit, meskipun sempat terpuruk dihantam gejolak konflik Timur Tengah, dan penilaian MSCI pada Januari 2026 dan Juni 2026.
Seperti diketahui, investor asing di BEI didominasi oleh investor Singapura, atau investor Tiongkok yang berafiliasi dengan sekuritas di Singapura.
“Dana-dana asing sudah keluar sekitar 80% dari pasar Indonesia, dengan tujuan supaya harga saham turun lalu mereka kembali masuk. Masalahnya, waktu mereka keluar, bursa kita tidak hancur, karena harga saham tidak turun drastis, jadi mereka tidak bisa masuk lagi buat beli murah,” kata Lutfi.
Kondisi tersebut yang kemudian membuat investor Singapura menekan MSCI untuk mengancam menurunkan kasta pasar modal Indonesia ke Standalone Market, supaya memicu kepanikan massal (panic selling), jadi IHSG rontok lalu mereka borong kembali aset-aset terbaik Indonesia di harga diskon.
Menyikapi hal itu, Lutfi mengajak investor domestik untuk memanfaatkan momen keluarnya investor asing dengan masuk ke BEI, membeli saham-saham terbaik perusahaan Indonesia, agar dominasi investor asing tidak mempengaruhi integritas pasar modal Indonesia ke depan.
“Jadi, buat bangsa Indonesia, jangan mau diadu, dibuat minder oleh negara tetangga. Ini soal siapa memegang kendali atas kekayaan Indonesia. Kita harus kompak, kita harus jaga harga diri bangsa kita sendiri,” ungkap Lutfi. (Jea)


