BRIEF.ID – Sutradara Jepang peraih penghargaan internasional, Hirokazu Kore-eda, menghadirkan kisah yang berbeda melalui film terbarunya dengan menjadikan sosok humanoid anak-anak sebagai tokoh utama.
“Sheep in the Box,” yang tayang perdana di bioskop Amerika Serikat (AS) pada Jumat (23/7/2026), berpusat pada pasangan suami istri yang kehilangan putra mereka. Untuk mengatasi kesedihan, mereka memesan sebuah robot humanoid yang dibuat persis seperti putra mereka.
Judul film ini merujuk pada “The Little Prince,” buku anak-anak karya Antoine de Saint-Exupéry, di mana seekor domba dibayangkan tersembunyi di dalam sebuah kotak. Bagi Kore-eda, referensi ini menunjukkan bahwa beberapa hal paling berharga dalam hidup mungkin tidak berwujud, didukung oleh koneksi yang tidak dapat dilihat.
Film yang diputar perdana di Festival Film Cannes tahun ini, mengeksplorasi hubungan emosional antara manusia dan teknologi melalui sudut pandang yang khas, yang selama ini menjadi ciri karya-karya Kore-eda.
“Film ini mengeksplorasi bagaimana pasangan mencoba memperbaiki hubungan mereka dengan anak mereka, jadi tidak jauh berbeda dari cerita-cerita yang telah saya eksplorasi dalam karya-karya saya sebelumnya,” kata Kore-eda dikutip dari Associated Press, Sabtu (25/7/2026).
Dikenal lewat film-film bertema keluarga dan kemanusiaan, Kore-eda kali ini menggabungkan unsur fiksi ilmiah dengan drama untuk mengisahkan humanoid berwujud anak-anak yang hidup berdampingan dengan manusia.
Melalui cerita tersebut, ia ingin mengangkat pertanyaan mengenai makna keluarga, kasih sayang, identitas, dan batas antara manusia dengan kecerdasan buatan.
Mengusung tema futuristis, Kore-eda menegaskan bahwa fokus utama film ini tetap pada emosi dan hubungan antarkarakter, bukan pada teknologi semata. Menurutnya, kehadiran humanoid anak-anak menjadi medium untuk mengeksplorasi nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan modern.
Film terbaru ini menjadi proyek yang cukup berbeda dibandingkan karya-karya Kore-eda sebelumnya, seperti Shoplifters, Broker, dan Monster, yang lebih banyak mengangkat kisah keluarga dengan latar kehidupan nyata. Kehadiran elemen fiksi ilmiah menandai eksplorasi baru sang sineas tanpa meninggalkan pendekatan humanis yang telah menjadi identitasnya.
Rincian mengenai jadwal penayangan maupun pemeran film tersebut masih akan diumumkan oleh tim produksi pada kesempatan berikutnya. (nov)


