BRIEF.ID – Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Jumat (24/7/2026), sementara harga minyak mentah turun untuk pertama kalinya dalam sepekan.
Dikutip dari Associated Press, Sabtu (25/7/2026), pelaku pasar terus mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah, kebijakan perdagangan terbaru pemerintahan Presiden AS Donald Trump, serta prospek inflasi yang masih membayangi perekonomian.
Indeks S&P 500 ditutup menguat tipis 3,68 poin atau kurang dari 0,1 persen ke level 7.411,98. Meski mencatat kenaikan tipis pada perdagangan hari terakhir pekan ini, indeks acuan itu tetap membukukan pelemahan mingguan untuk kedua kalinya secara berturut-turut, yang merupakan penurunan dua pekan beruntun pertama sejak Maret.
Pergerakan pasar sepanjang pekan berlangsung fluktuatif di tengah meningkatnya ketegangan setelah eskalasi konflik antara AS dan Iran. Kondisi ini mendorong investor bersikap lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi penerapan tarif baru oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Kebijakan itu memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya tekanan terhadap aktivitas perdagangan global dan pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, inflasi yang masih bertahan di atas target bank sentral turut menjadi perhatian investor. Kekhawatiran bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama dinilai dapat menekan konsumsi, investasi, dan kinerja perusahaan.
Sementara itu, harga minyak mentah melemah untuk pertama kalinya dalam sepekan setelah sebelumnya menguat akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Minyak mentah Brent, standar internasional, turun 3,9% menjadi US$ 96,78 per barel. Harga minyak naik selama empat hari pertama pekan ini dan kembali di atas US$ 100 per barel pada hari Kamis (23/7/2026). Sebelum perang Iran dimulai pada akhir Februari, harga minyak Brent diperdagangkan sekitar US$ 72 per barel.
Imbal hasil (yield)obligasi juga menurun dan mengurangi tekanan pada pasar saham. Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun turun menjadi 4,68% dari 4,71% pada Kamis (23/7/2026) malam.
Penurunan harga minyak sedikit meredakan tekanan di pasar energi, meski pelaku pasar masih mewaspadai perkembangan konflik yang dapat kembali memicu volatilitas harga komoditas.
Sentimen pasar dalam waktu dekat masih akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, arah kebijakan perdagangan AS, serta data ekonomi dan inflasi yang menjadi acuan bagi kebijakan suku bunga bank sentral. (nov)


