Harga Saham di Bursa Wall Street Naik, Harga Minyak Turun

BRIEF.ID – Harapan adanya kemungkinan berakhirnya perang Amerika Serikat (AS) – Israel dengan Iran mendorong harga saham naik di bursa Wall Street, New York, AS  pada  Rabu (25/3/2026). Di sisi lain,  harga minyak mentah turun.

Indeks S&P 500 naik 0,5% dalam pergerakan naik turun terbarunya setelah AS mengumumkan  rencana  menghentikan sementara perang dengan Iran. Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 305 poin, atau 0,7%, dan indeks Nasdaq composite naik 0,8%.

Namun pergerakan tersebut goyah, dan S&P 500 sempat hampir menghapus seluruh kenaikannya, yang mencapai puncaknya pada 1,2% selama pagi hari. Pasar keuangan telah berayun tajam sejak perang dimulai lebih dari tiga minggu lalu, dan banyak pembalikan terjadi dari jam ke jam karena ketidakpastian terus mendominasi tentang berapa lama perang akan berlangsung.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah Iran bahwa pemerintahnya belum terlibat dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang. “Dan kami tidak berencana untuk melakukan negosiasi apa pun,” kata Araghchi.

Iran juga telah  melancarkan lebih banyak serangan terhadap Israel dan negara-negara Arab Teluk, termasuk serangan yang memicu kebakaran besar di Bandara Internasional Kuwait, sementara Iran sendiri juga diserang. Militer AS mengerahkan pasukan terjun payung dan lebih banyak Marinir ke wilayah tersebut.

Namun, optimisme tetap terlihat di pasar keuangan di seluruh dunia. Indeks saham naik lebih dari 1% di London, Paris, dan Shanghai. Nikkei 225 Tokyo melonjak 2,9%.

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman bulan Juni turun 3% menjadi $97,26. Harapan meningkat bahwa pendinginan pertempuran dapat memungkinkan minyak dan gas alam mengalir lebih bebas dari Teluk Persia ke pelanggan di seluruh dunia. Banyak kapal tanker minyak saat ini terjebak di luar Selat Hormuz di lepas pantai Iran, dan blokade tersebut telah menyebabkan harga minyak mentah Brent mencapai hampir US$ 120 per barel, pada beberapa waktu.

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah juga menurun. Hal itu dapat membantu mengurangi kenaikan suku bunga untuk hipotek dan jenis pinjaman lainnya sejak awal perang. Pada gilirannya, hal itu dapat mengurangi tekanan pada perekonomian.

Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun turun menjadi 4,32% dari 4,39% pada Selasa malam, meskipun masih jauh di atas level 3,97% sebelum perang. Bahkan emas, yang telah menjadi salah satu aset investasi yang paling merugi selama perang, naik. Harganya naik 3,4% menjadi US$ 4.552,30 per troy ons.

Harga emas sempat mendekati US$ 5.400 pada awal bulan ini. Itu terjadi sebelum imbal hasil obligasi pemerintah melonjak karena kekhawatiran bahwa harga minyak yang tinggi akan mendorong inflasi dan mencegah Federal Reserve memangkas suku bunga. Ketika obligasi memberikan bunga yang lebih tinggi, emas, yang tidak memberikan keuntungan apa pun kepada investornya, menjadi kurang menarik jika dibandingkan. (Associated Press/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Indeks S&P 500 Melemah Tipis, Spekulasi Kenaikan Suku Bunga Mereda

BRIEF.ID – Bursa Wall Street, New York, Amerika Serikat...

Tiga Agenda Strategis Pemerintah Perkuat Fondasi Ekonomi Nasional

BRIEF.ID – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah membangun...

Prabowo: Pengadaan Barang dan Jasa Harus Terintegrasi

BRIEF.ID – Presiden Prabowo Subianto menegaskan disiplin fiskal harus...

Pemerintah Targetkan Tingkat Kemiskinan Turun 6% pada 2027

BRIEF.ID – Presiden Prabowo Subianto menargetkan tingkat kemiskinan Indonesia...