BRIEF.ID – Harga minyak dunia melonjak hingga menembus levelk US$90 per barel, seiring konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang membuat pelayaran di Selat Hormuz terganggu.
Seperti dilansir Reuters, harga minyak dunia jenis Brent melesat 3,05% atau US$2,69 ke level US$90,79 per barel pada Senin (20/7/2026), yang merupakan level tertinggi sejak 11 Juni 2026.
Sedangkan harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2,65% atau US$2,19 ke level US$84,68 per barel, tertinggi sejak 12 Juni 2026.
Sementara harga minyak dunia untuk kontrak bulan terdekat (front-month) mencatat kenaikan 15,5% pada pekan lalu, yang merupakan harga mingguan terbesar sejak awal Maret 2026.
Lonjakan harga minyak dunia ke level psikologis US$90 per barel dipicu konflik Timur Tengah, yang kian memanas. Sepanjang akhir pekan, AS terus melancarkan serangan ke Iran, yang dibalas Iran dengan menyerang Kuwait dan Bahrain, yang merupakan sekutu AS di Timur Tengah.
AS menyatakan akan kembali memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran, sedangkan Iran menegaskan akan menargetkan kapal-kapal, yang melintas Selat Hormuz.
Hal itu, membuat jalur pelayaran untuk distribusi minyak dan gas (migas) di perairan Teluk Persia, dan Selat Hormuz terganggu, sehingga memicu spekulasi terkait ancaman pasokan energi global.
Berdasarkan data London Stock Exchange Group (LSEG), hanya 4 kapal tanker minyak, yang melintasi Selat Hormuz pada Minggu (19/7/2026), turun dari 8 kapal pada hari sebelumnya.
LSEG juga mencatat setidaknya 3 kapal tanker produk minyak dan satu kapal pengangkut minyak mentah sangat besar (Very Large Crude Carrier) telah melewati Selat Hormuz sejak Jumat (17/7/2026).
Dengan terganggunya jalur pelayaran migas di Selat Hormuz, kekhawatiran terkait pasokan energi kembali meningkat, sehingga harga minyak dunia melonjak, dan menimbulkan gejolak pada pasar keuangan di perdagangan awal pekan ini. (Jea)


