Harga Minyak Dunia Anjlok di Bawah US$90 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Mereda

BRIEF.ID – Harga Minyak Dunia anjlok di bawah level US$90 per dolar AS seiring konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mereda.

Seperti dilansir CNBC, harga minyak dunia jenis Brent untuk kontrak pengiriman September turun tajam 8,7% menjadi US$ 88,36 per barel pada penutupan perdagangan Senin (27/7/2026).

Sedangkan harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September anjlok 7,5%, dan ditutup di level US$ 82,61 per barel.

Pada sesi perdagangan hari ini, Selasa (28/7/2026), harga minyak dunia masih melanjutkan penurunan, dipicu pernyataan Iran yang bersedia menghentikan serangan selama ASS juga tidak melakukan serangan.

Harga minyak mentah jenis Brent yang menjadi acuan dibuka turun 0,6% atau US$0,54 menjadi US$87,82 per barel. Sementara harga minyak mentah WTI AS melemah 0,8% atau US$0,66 ke level US$81,95 per barel.

Pelaku pasar merespons positif perkembangan terbaru konflik Timur Tengah yang mengindikasikan Iran maupun AS memilih menahan serangan, dan terbuka untuk jalur diplomasi.

Seorang pejabat Iran mengatakan tetap berpegang pada prinsip serangan akan dibalas dengan serangan. Dengan demikian, Iran akan menghentikan operasinya apabila AS tidak menyerang.

“Sikap Teheran tetap ‘serangan dibalas serangan’: jika serangan berhenti, Iran juga akan menghentikan operasinya. Pesan itu telah disampaikan kepada Amerika Serikat,” kata pejabat Iran, seperti dikutip CNBC, Selasa (28/7/2026).

Sementara Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, mengatakan bahwa Presiden Donald Trump memilih menghentikan sementara serangan untuk memberikan ruang bagi upaya diplomasi.

Perkembangan terbaru konflik AS-Iran yang membuat harga minyak turun tajam, turut mengubah ekspetasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Investor menilai turunnya harga minyak dunia di bawah level US$90 per barel, akan menjadi pertimbangan dalam menentukan kebijakan suku bunga The Fed atau Fed Funds Rate (FFR) dalam pertemuan pekan ini.

Hal ini, mendorong ekspetasi pelaku pasar bahwa The Fed kemungkinan akan mempertahankan FFR, karena inflasi AS relatif terkendali. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Rupiah Merosot ke Level Rp18.100 per Dolar AS, Investor Cermati Arah Kebijakan BI

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah merosot ke level...

BEI Evaluasi Konstituen LQ45, IDX30, dan IDX80, Berlaku Efektif 3 Agustus 2026

BRIEF.ID – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan evaluasi...

Medco Energi Siapkan Dana Pelunasan Obligasi Rp 600 Miliar

BRIEF.ID – PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)  menyiapkan...

IHSG Dibuka Melemah 0,47% ke Level 6.156

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan...