BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok ke level 6.400 pada perdagangan akhir pekan, Jumat (11/9/2026), imbas data inflasi produsen Amerika Serikat (AS).
Pada akhir sesi I perdagangan hari ini, IHSG ditutup melemah 1,49% atau 98,42 poin ke level 6.490. Sebelumnya pada awal perdagangan hari ini, IHSG dibuka melemah 0,55% atau 36,55 poin ke posisi 6.552.
Sepanjang 3 jam perdagangan sesi I, yakni pukul 09.00-12.00 waktu JATS, IHSG bergerak di zona merah, dengan menyentuh level tertinggi di 6.552, dan level terendah di 6.462.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 521 saham turun harga, 133 saham naik harga, dan 131 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Volume saham yang ditransaksikan sepanjang sesi I perdagangan mencapai 20,185 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.236.971 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp8,479 triliun.
Tekanan terhadap IHSG datang dari rilis data inflasi produsen atau Producer Price Index (PPI) AS, yang menunjukkan tekanan lebih tinggi. Secara tahunan atau year-on-year (yoy) PPI AS pada Agustus 2026 naik menjadi 5,4%.
Secara bulanan atau month-to-month (mtm), PPI AS Agustus 2026 meningkat 0,4% dibandingkan Juli 2026. Sementara PPI inti naik 0,2% (mtm), dan 4,6% (yoy).
Data PPI AS per Agustus 2026 semakin memperkuat keyakinan investor bahwa Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) memiliki alasan kuat untuk menaikkan suku bunga acuan pada rapat pekan depan.
Berdasarkan CMEFedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps pada pertemuan FOMC 16 September 2026 meningkat menjadi sekitar 73%, dari sekitar 64 persen sebelum rilis PPI.
Selain itu, tekanan terhadap IHSG juga masih dipicu lonjakan harga minyak dunia, seiring kembali memanasnya konflik Timur Tengah antara AS dan Iran.
Harga minyak dunia jenis Brent yang menjadi acuan global melonjak 8,7% menjadi US%109,97 per barel, sedangkan harga minyak WTI naik 8,54% menjadi US$104 per barel.
Hal itu, memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan emerging market termasuk BEI, karena investor memilih mengalihkan modal ke intrumen investasi yang lebih aman.
Dampaknya, saham-saham unggulan berkapitalisasi besara (big caps) terpuruk lebih dari 1%, seperti saham 4 bank besar, yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
Harga saham BBCA merosot 1,95% atau Rp125 menjadi Rp6.300 per lembar, BBNI terpangkas 1,84% atau Rp70 menjadi Rp3.730 per lembar, BBRI turun 1,51% atau Rp50 menjadi Rp3.270 per lembar, dan BMRI melemah 1,14% atau Rp50 menjadi Rp4.320 per lembar.
Tekanan jual juga terjadi pada saham unggulan lainnya, seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), dan PT Astra International Tbk (ASII).
Harga saham TLKM terpantau turun 1,14% atau Rp30 menjadi Rp2.600 per lembar, SMGR terkoreksi 2,60% atau Rp45 menjadi Rp1.685 per lembar, dan ASII turun 0,62% atau Rp30 menjadi Rp4.840 per lembar.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi masih tertekan di zona merah hingga akhir perdagangan, dengan bergerak di kisaran level support 6.450 hingga level resistance 6.550. (Jea)


