BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah merosot ke level Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) seiring sikap hati-hati investor, yang mencermati arah kebijakan Bank Indonesia (BI) pascapengunduran diri Perry Warjiyo.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Selasa (28/7/2026), kurs rupiah dibuka melemah 0,34% atau 61 poin menjadi Rp18.070 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp18.009 per dolar AS.
Seiring berjalannya perdagangan, pelemahan rupiah terus berlanjut bahkan menyentuh level Rp18.000 per dolar AS. Hingga pukul 11:30 WIB, kurs rupiah Jisdor terpantau melemah 0,53% atau 93 poin di level Rp18.102 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di saat harga minyak dunia, dan indeks dolar AS terkoreksi seiring mulai meredanya tensi konflik Timur Tengah.
Pada perdagangan hari ini, harga minyak dunia jenis Brent yang menjadi acuan dibuka turun 0,6% atau US$0,54 menjadi US$87,82 per barel. Sedangkan harga minyak mentah WTI AS melemah 0,8% atau US$0,66 ke level US$81,95 per barel.
Sementara itu, Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama turun 0,05% ke level 101,48, dan diprediksi akan melemah terbatas seiring pernyataan pejabat AS dan Iran yang sama-sama menahan serangan.
Dengan demikian, pelemahan rupiah hari ini masih dipengaruhi sentimen domestik terkait pengunduran diri Gubernur BI, Perry Warjiyo. Hal itu merupakan yang pertama dalam sejarah Indonesia, di mana Gubernur BI mengundurkan diri saat masa jabatannya belum berakhir.
Meskipun pemerintah menyatakan pengunduran diri Perry Warjiyo, karena alasan pribadi, spekulasi seputar intervensi pemerintah terhadap independensi BI terus bergulir.
Hal ini, yang memicu investor bersikap hati-hati, dan mencermati arah kebijakan BI, di bawah kepemimpinan Destry Damayanti sebagai pejabat sementara (Pjs) Gubernur BI.
Meskipun Destry telah ditunjuk sebagai Pjs Gubernur BI, pelaku pasar akan menunggu proses pergantian Gubernur BI, di mana presiden akan mengajukan calon Gubernur BI baru kepada DPR.
Mundurnya Perry Warjiyo membuat investor khawatir dengan arah kebijakan moneter Indonesia, yang selama ini menjadi penyeimbang terhadap kebijakan fiskal Indonesia yang dinilai buruk oleh banyak lembaga keuangan global.
Terkait dengan itu, pergerakan rupiah diperkirakan masih terkoreksi, bahkan berpotensi menembus level Rp18.200, sehingga harus diwaspadai BI untuk melakukan intervensi terbatas guna menjaga stabilitas mata uang Garuda. (Jea)


