BRIEF.ID – Harga emas dunia berada dalam tren melemah, dan menyentuh level terendah sepanjang tahun ini, pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026).
Seperti dilansir Bloomberg, harga emas dunia di pasar spot ditutup melemah 0,3% ke level US$4.317,9 per troy ounce pada perdagangan kemarin. Dalam dua hari terakhir, harga emas dunia tercatat mengalami koreksi sebesar 3,51%.
Padahal memasuki Januari 2026, harga emas dunia berada dalam tren kenaikan hingga mencatat rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High) di atas US$ 5.600 per troy ounce pada akhir Januari 2026.
Hal ini, membuat sejumlah lembaga keuangan dan investasi global, memperoyeksikan harga emas dunia bisa menyentuh level US$6.000 per troy ounce pada Tahun 2026, seiring kecenderungan penurunan suku bunga acuan.
Namun demikian, tren bullish harga emas dunia berbalik arah ke tren bearish seiring serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran, pada 28 Februari 2026, yang membuat konflik Timur Tengah memanas.
Hingga 3 bulan berbalu, konflik Timur Tengah tak kunjung usai, bahkan perundingan damai dan kesepakatan gencatan senjaha antara AS dan Iran tak menunjukkan kepastian.
Kondisi tersebut, membuat kekhawatiran terkait krisisi energi global yang memicu lonjakan inflasi tetap tinggi, begitu pula dengan kenaikan suku bunga acuan untuk mengendalikan inflasi.
Konflik Timur Tengah yang terus berlarut, membuat harga minyak dunia tetap tinggi. Pada penutupan perdagangan kemarin, harga minyak dunia jenis Brent ditutup naik 1,21% menjadi US$ 94,22 per barel.
Lonjakan harga minyak dunia, berimbas pada kenaikan biaya energi, dan berdampak pada inflasi di berbagai sektor. Kondisi ini diyakini membuat bank sentral di berbagai negara cenderung memperketat kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan.
Salah satu yang disoroti adalah kebijakan moneter Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), di bawah kepemimpinan Kevin Warsh, yang menggantikan Gubernur The Fed sebelumnya, Jerome Powell, pada Mei 2026.
Kevin Warsh akan memimpin rapat perdana FOMC The Fed pada 16-17 Juni 2026. Konsensus pasar menilai, sulit bagi The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga acuan dalam ketidakpastian global saat ini.
Meski demikian, Kevin Wars yang merupakan orang pilihan Presiden AS, Donald Trump, kemungkinan akan tetap menahan suku bunga acuan atau Fed Fund Rates (FFR).
Pelemahan harga emas dunia yang telah menyentuh level US$4.300 per troy ounce, berbanding terbalik dengan prediksi pengamat bahkan sejumlah lembaga investasi bahwa logam mulia akan menjadi aset primadona pada tahun ini.
Salah satunya adalah JP Morgan, lembaga investasi asal AS, yang memproyeksikan rata-rata harga emas dunia pada 2026 di kisaran US$5.243 per troy ounce, bahkan diperkirakan menyentuh level US$6.000 per troy ounce seiring prospek bullish, yang didorong oleh aksi borong bank-bank sentral.
Meski harga emas dunia sedang dalam tren melemah, berbagai lembaga investasi dunia termasuk JP Morgan belum merevisi proyeksi harga emas, dan mempertahankan prospek bullish untuk jangka panjang. (jea)


