BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (24/7/2026). Hingga menjelang penutupan Sesi I, IHSG melemah 112,65 poin atau 1,78% ke level 6.202,66, seiring maraknya aksi jual yang terjadi hampir di seluruh sektor saham.
Pelemahan IHSG dipicu oleh meningkatnya sentimen negatif dari pasar global. Investor mencermati eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia, sekaligus memicu penguatan aset safe haven.
Di sisi lain, kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah mitra dagang turut menambah kekhawatiran terhadap prospek perdagangan dan pertumbuhan ekonomi global.
Tekanan jual juga terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), khususnya sektor perbankan, telekomunikasi, energi, dan komoditas. Pelemahan saham-saham unggulan tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap penurunan IHSG karena memiliki bobot besar dalam pembentukan indeks.
Pelaku pasar juga mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan potensi arus keluar dana asing (foreign outflow) di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Kondisi tersebut membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko sambil menunggu perkembangan lebih lanjut dari kebijakan ekonomi global dan arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Volatilitas pasar diperkirakan masih akan tinggi hingga penutupan perdagangan. Secara teknikal, apabila tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi menguji area support di kisaran 6.180–6.103, sedangkan level 6.377–6.394 menjadi area resistance yang perlu ditembus untuk membuka peluang penguatan kembali. (nov)


