BRIEF.ID – Pemerintah mengklaim sudah menyiapkan enam bandara alternatif untuk mengantisipasi penumpukan penumpang setelah beberapa bandara terpaksa ditutup sementara akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Enam bandara yang disiapkan sebagai alternatif tersebut adalah Bandara Juanda di Jawa Timur, Bandara Adi Soemarmo dan Bandara Jenderal Ahmad Yani di Jawa Tengah, Bandara Internasional Yogyakarta dan Bandara Adisutjipto di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Bandara Internasional Kertajati di Jawa Barat.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan opsi penggunaan bandara alternatif ditujukan untuk memberikan ruang bagi maskapai dalam mengatur ulang penerbangan yang terdampak. Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah penumpukan penumpang di bandara yang operasionalnya terganggu.
“Kami mendorong agar maskapai dapat menggunakan bandara tersebut untuk menghindari penumpukan penumpang, baik yang akan datang maupun yang akan terbang. Ini yang kita harapkan supaya pengaturan penumpang bisa optimal,” tutur Dudy saat memantau Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (7/9).
Kendati demikian, keberadaan keenam bandara alternatif itu belum otomatis menjamin penerbangan dapat dialihkan. Penggunaannya tetap bergantung pada kondisi operasional, kesiapan fasilitas, rute penerbangan, serta keputusan masing-masing maskapai.
Dudy mengaku terus berkoordinasi dengan pengelola bandara, AirNav Indonesia, maskapai, dan instansi terkait. Koordinasi tersebut diperlukan karena perubahan rute penerbangan tidak hanya menyangkut ketersediaan landasan, tetapi juga aspek keselamatan dan pengaturan lalu lintas udara.
Di sisi lain, pemerintah juga meminta calon penumpang tidak langsung menuju bandara sebelum memastikan status penerbangannya.
Dudy mengimbau masyarakat mengecek informasi terbaru kepada maskapai masing-masing karena status penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik.
“Kami mengapresiasi masyarakat yang telah tertib mengikuti aturan dan arahan terkait kondisi penerbangan saat ini. Dukungan dan kepatuhan masyarakat sangat membantu proses penanganan kondisi ini, khususnya dalam menjaga keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan,” kata Dudy.

Hingga Senin pagi, sejumlah bandara di Jawa dan Sumatera masih terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan data terbaru BMKG, pemerintah melanjutkan penutupan sementara sejumlah bandara hingga pukul 18.00 WIB.
“Penyesuaian operasional penerbangan dilakukan secara dinamis mengikuti kondisi aktual di lapangan dan perkembangan sebaran abu vulkanik,” ujar Dudy.
Bandara yang masih ditutup sementara hingga pukul 18.00 WIB meliputi Bandara Soekarno-Hatta, Radin Inten II, Budiarto, Halim Perdanakusuma, Pondok Cabe, Muhammad Taufiq Kiemas, serta Husein Sastranegara. Sementara itu, Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam yang sebelumnya terdampak telah kembali beroperasi normal sejak pukul 09.00 WIB.
BMKG mencatat abu vulkanik masih terpantau pada dua lapisan ketinggian, yakni hingga 15.000 kaki dan 50.000 kaki. Kondisi itu masih berpotensi mengganggu jalur penerbangan sehingga keputusan pembukaan atau penutupan bandara harus mengikuti perkembangan kondisi atmosfer dan informasi keselamatan penerbangan.
Dampaknya tidak kecil. Sejak 5 September 2026, sekitar 2.300 penerbangan dengan 270.337 penumpang tercatat terdampak, baik karena pembatalan, penundaan, maupun pengalihan penerbangan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.397 penerbangan dengan sekitar 177.579 penumpang terdampak akibat penutupan bandara. Sementara itu, 922 penerbangan yang membawa sekitar 92.758 penumpang terdampak karena adanya penyesuaian rute.
Pemerintah menyatakan proses pemulihan tidak akan serta-merta dilakukan setelah bandara dinyatakan dapat dibuka. Dudy mengatakan sejumlah pekerjaan teknis harus dilakukan terlebih dahulu, termasuk memastikan area pergerakan pesawat terbebas dari abu vulkanik.
“Dalam persiapannya, apabila kondisi sudah memungkinkan untuk bandara dibuka, kami akan melakukan upaya-upaya seperti pembersihan runway, taxi way, maupun apron. Hal ini supaya apabila pada waktunya situasi sudah memungkinkan, bandara siap dioperasikan,” tutur Dudy.
Dengan jumlah penerbangan dan penumpang terdampak yang terus membesar, tantangan pemerintah kini bukan hanya membuka kembali bandara yang ditutup.
Pemerintah dan maskapai juga dituntut memastikan informasi perubahan penerbangan sampai kepada penumpang secara cepat, sementara keselamatan tetap menjadi batas yang tidak bisa dinegosiasikan di tengah ketidakpastian sebaran abu vulkanik. (ayb)


