BRIEF.ID – Harga batu bara kembali menguat di tengah paradoks transisi energi global. Ketika China pertama kalinya mencatat kapasitas listrik tenaga surya melampaui pembangkit berbahan bakar batu bara, harga komoditas energi fosil tersebut justru menembus sekitar US$145 per ton pada awal September 2026, level tertinggi dalam 11 pekan.
Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan energi terbarukan belum serta-merta menghapus kebutuhan terhadap batu bara. Permintaan listrik dunia yang terus meningkat membuat bahan bakar fosil masih memiliki ruang dalam sistem kelistrikan global, terutama ketika pasokan energi lain menghadapi tekanan.
Data yang dihimpun Trading Economics menunjukkan harga batu bara bergerak ke sekitar US$145 per ton pada awal bulan September. Penguatan itu dipengaruhi kombinasi permintaan energi yang kuat serta risiko gangguan pasokan.
Situasi itu terjadi bersamaan dengan perkembangan besar di China. Data dari National Energy Administration menunjukan kapasitas terpasang pembangkit photovoltaic (PV) China mencapai 1.286 gigawatt (GW) pada akhir Juli 2026, sedikit di atas kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara sebesar 1.285 GW.
Namun, capaian tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Keunggulan tenaga surya yang dimaksud adalah dari sisi kapasitas terpasang, bukan produksi listrik aktual. Batu bara masih menghasilkan listrik secara lebih konsisten karena tidak bergantung pada kondisi cuaca dan paparan matahari.
Bahkan, pada semester I/2026, pembangkit batu bara masih menyumbang sekitar 49,7% produksi listrik China, meskipun untuk pertama kalinya porsinya turun di bawah 50%.
Dengan demikian, pertumbuhan panel surya belum otomatis berarti berakhirnya era batu bara. Tantangan berikutnya justru berada pada kemampuan jaringan listrik menyerap produksi energi terbarukan yang sifatnya intermiten, termasuk kebutuhan penyimpanan energi dan penguatan transmisi.
Fenomena tersebut juga tercermin dalam proyeksi Badan Energi Internasional (IEA). Dalam laporan Electricity 2026, IEA memperkirakan pembangkit listrik berbasis batu bara memang akan mengalami penurunan rata-rata sekitar 0,9% per tahun sepanjang 2026-2030.
Meski turun, batu bara diperkirakan tetap menjadi sumber energi tunggal terbesar untuk pembangkitan listrik dunia hingga 2030. Pada saat yang sama, energi terbarukan secara agregat diproyeksikan menjadi kelompok sumber listrik terbesar pada 2030.
IEA mencatat batu bara masih menjadi sumber pembangkitan listrik terbesar dunia pada 2025 dengan kontribusi sekitar 34% terhadap produksi listrik global. Energi angin dan surya memang berkembang cepat, tetapi pertumbuhan kebutuhan listrik global juga ikut memperbesar kebutuhan terhadap seluruh sumber energi.
Tekanan terhadap pasar batu bara juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar gas alam cair atau LNG. Ketika pasokan gas mengetat dan harga gas meningkat, sejumlah pembangkit dapat terdorong melakukan fuel switching dari gas ke batu bara, terutama di pasar yang memiliki fleksibilitas pembangkit berbahan bakar fosil. IEA mencatat fenomena peralihan dari gas ke batu bara telah terjadi di sejumlah wilayah ketika harga gas lebih tinggi.
Kondisi geopolitik di Timur Tengah turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan pasar energi. Gangguan berkepanjangan terhadap rantai pasok energi dapat meningkatkan volatilitas harga LNG dan komoditas energi lainnya, sehingga batu bara kembali dipandang sebagai salah satu alternatif pasokan oleh sebagian pasar.
Bagi Indonesia, kenaikan harga batu bara memiliki arti penting karena batu bara masih menjadi salah satu komoditas ekspor utama sekaligus sumber penerimaan bagi perusahaan tambang dan negara. Perubahan harga global dapat berpengaruh terhadap kinerja produsen batu bara, meski dampaknya berbeda-beda tergantung kualitas batu bara, biaya produksi, kontrak penjualan dan kebijakan domestik.
Sejumlah emiten yang berpotensi menjadi perhatian investor di tengah pergerakan harga batu bara antara lain PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Pergerakan saham-saham tersebut tetap tidak hanya ditentukan harga batu bara, tetapi juga kinerja operasional, produksi, struktur biaya, kebijakan dividen dan sentimen pasar.
Kenaikan harga menuju US$145 per ton pada akhirnya memperlihatkan satu hal penting: transisi energi tidak berlangsung dalam garis lurus. Investasi besar-besaran pada solar dan energi terbarukan berjalan beriringan dengan meningkatnya kebutuhan listrik dan masih kuatnya ketergantungan terhadap batu bara. Bagi pasar komoditas, kondisi tersebut membuat batu bara belum bisa begitu saja dianggap sebagai komoditas masa lalu. (ayb)
Catatan: Informasi saham dalam narasi ini bersifat pemberitaan, bukan rekomendasi investasi.


