Rupiah Melemah di Akhir Pekan Imbas Eskalasi Konflik Timur Tengah

BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah melemah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (24/7/2026), imbas lonjakan harga minyak dunia seiring meningkatnya eskalasi konflik Timur Tengah.

Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah dibuka melemah 0,24% atau 43 poin menjadi Rp17.979 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.936 per dolar AS.

Meski demikian, pelemahan rupiah perlahan menipis seiring jalannya perdagangan. Hingga pukul 11:00 WIB, kurs rupiah terpantau berada di level Rp17.972, melemah

Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,35% ke level Rp17.978 per dolar AS. Tak lama berselang, rupiah memangkas sedikit pelemahannya sebesar 0,33% menjadi Rp17.975 per dolar AS.

Pelemahan rupiah menipis, seiring harga minyak dunia yang melemah 1% menjadi US$99,68 per barel pada perdagangan hari ini, setelah sebelumnya melonjak hingga menyentuh level US$100,67 per barel pada penuputan perdagangan Kamis (23/7/2026). 

Kenaikan harga minyak dunia dipicu meningkatnya eskalasi konflik Timur Tengah, seiring ancaman Presiden AS, Donald Trump, kepada Iran dan Kelompok Houthi.

Dalam unggahan di media sosialnya, Trump menyebut AS akan melakukan “hukuman besar” kepada Iran dan Houthi. Dalam wawancara dengan Axios, Trump menyatakan telah mempertimbangkan, dan hampir mencapai keputusan untuk melakukan “serangan besar” terhadap Iran dan Houthi.

Ancaman  disampaikan setelah  kelompok Houthi di Yaman menyatakan telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.

Serangan tersebut, memperburuk gangguan pasokan minyak dunia, yang sebelumnya sudah terjadi akibat terganggunya pelayaran melalui Selat Hormuz.

Mata Uang Terlemah

Tak hanya rupiah, mayoritas mata uang Asia pun mengalami tekanan terhadap dolar AS, hanya  Won Korea Selatan, Yen Jepang, dan Yuan Tiongkok yang menguat.

Rupiah menjadi mata uang terlemah di Pasar Keuangan Asia hari ini, seiring kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal yang berisiko mengalami defisit yang kian melebar.

Lonjakan harga minyak dunia dapat memperbesar kebutuhan devisa untuk impor, dan meningkatkan risiko imported inflation. Hal itu, mendorong investor mencermati kemampuan pemerintah Indonesia menjaga defisit APBN agar tidak semakin melebar.

Untuk perdagangan hari ini, kurs rupiah diprediksi bergerak melemah terbatas di kisaran level Rp17.900 per dolar AS hingga Rp18.000 per dolar AS. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Sektor Konsumsi dan Ekspor Harus Didorong untuk Perkuat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

BRIEF.ID - Pejabat sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia, Destry...

BI: Capital Inflow Capai US$1,8 Miliar di Juli-Agustus 2026

BRIEF.ID - Bank Indonesia (BI) menyatakan aliran modal asing...

BI Tahan Suku Bunga di Level 5,75% untuk Perkuat Stabilitas Rupiah

BRIEF.ID - Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan suku bunga...

BI Pertahankan BI Rate 5,75%

BRIEF.ID – Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%...